Dolar AS Turun, Sinyal Akhir Konflik AS-Iran Meningkatkan Optimisme Pasar
Indeks Dolar AS (DXY) jatuh dibawah level 100.00 pada Selasa (31/3), mempertahankan tone yang lemah, seiring dengan menurunnya permintaan akan dolar sebagai safe-haven. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya harapan mengenai de-eskalasi perang di Timur Tengah. Menurut laporan The Wall Street Journal, Presiden AS, Donald Trump, menyatakan kepada para pembantunya bahwa ia bersedia mengakhiri perang melawan Iran meskipun Selat Hormuz tetap sebagian besar tertutup. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, juga menyatakan bahwa negaranya memiliki "keinginan yang kuat" untuk mengakhiri perang, tetapi memerlukan jaminan agar konflik serupa tidak terulang.
Namun, ketegangan tetap tinggi setelah media negara Iran melaporkan bahwa Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) berencana untuk menargetkan perusahaan-perusahaan AS di kawasan sebagai pembalasan atas serangan terhadap Iran. Di antara 18 perusahaan yang diperingatkan oleh IRGC adalah Microsoft, Apple, Google, Intel, dan Boeing. Meskipun demikian, pasar saham melesat tajam pada hari Selasa, dengan Dow Jones Industrial Average, S&P 500, dan Nasdaq Composite mencatatkan kenaikan solid.
Sementara itu, EUR/USD melesat menuju area 1.1540 atau naik sekitar 0,8%, diuntungkan oleh pelemahan USD karena para investor mulai mengalihkan dana dari Greenback, meskipun kekhawatiran akan pertumbuhan Zona Euro masih berlanjut.
GBP/USD sedikit rebound dari posisi terendah beberapa bulan di sekitar 1.3240atau naik sekitar 0,38%, tetapi kesulitan untuk memperpanjang kenaikan, karena sentimen hati-hati di Inggris membatasi dampak pelemahan Dolar AS.
USD/JPY bergerak lebih rendah menuju 158.90, dengan Yen Jepang (JPY) mendapat sedikit dukungan dari ancaman intervensi dan sinyal hawkish dari pembuat kebijakan.
AUD/USD memperoleh sedikit kenaikan mendekati 0.6900 atau naik sekitar 0,7% setelah lima sesi berturut-turut mengalami kerugian. Di sisi Australia, risalah RBA menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan tetap khawatir tentang inflasi yang persisten dan menekankan bahwa risiko masih condong ke atas, memperkuat sikap hati-hati namun relatif hawkish. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id