Dolar Melemah Tipis Jelang PCE, Tetap Disokong Geopolitik Hormuz
Indeks dolar AS (DXY) bergerak turun tipis ke sekitar 99,70 pada sesi Asia Jumat, namun tetap berada di jalur kenaikan mingguan kedua berturut-turut dan bertahan dekat level tertinggi sejak November 2025. Pelemahan harian menunjukkan sikap pasar yang cenderung menunggu rilis inflasi PCE AS, sementara dukungan struktural masih datang dari arus safe haven terkait eskalasi konflik di Timur Tengah.
Tensi geopolitik tetap menjadi jangkar permintaan dolar. Pentagon dan Dewan Keamanan Nasional (NSC) menyatakan meremehkan keinginan Iran untuk menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan militer AS, di tengah operasi yang masih berjalan. Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, juga menyatakan Hormuz seharusnya tetap tertutup dan Teheran akan melanjutkan serangan terhadap negara-negara tetangga di Teluk.
Bagi pasar valas, kombinasi risiko geopolitik dan penggunaan energi memperkuat narasi “higher for long” pada suku bunga AS. Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed kembali berkurang karena inflasi yang dipicu minyak yang dinilai dapat memperumit jalur kebijakan, sehingga dolar relatif lebih tahan meskipun selera risiko global berfluktuasi.
Fokus berikutnya adalah laporan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Januari yang dirilis Jumat. Konsensus dalam material menyebutkan PCE utama diperkirakan naik 2,9% (yoy), sementara PCE inti diproyeksikan 3,1% (yoy). Jika inflasi lebih rendah dari perkiraan, ruang pelemahan dolar dapat terbuka dalam jangka pendek; sebaliknya, kejutan lebih panas berpotensi memperkuat DXY melalui repricing suku bunga dan imbal hasil. (asd)
Sumber : Newsmaker.id