Dolar Menguat Tipis, Pasar Waspada “Energy Price Shock”
Indeks dolar AS (DXY) naik tipis sekitar 0,2% di atas $99 pada Rabu (11/3) setelah data inflasi AS menunjukkan kenaikan yang moderat pada Februari, sementara pasar tetap menilai risiko eskalasi konflik Timur Tengah dan dampaknya ke perdagangan energi global. CPI Februari tercatat +0,3% (m/m) dan +2,4% (y/y), sesuai ekspektasi, namun perhatian pasar tetap tertuju pada risiko “price shock” energi berikutnya.
EUR/USD bertahan di sekitar 1,16, atau turun 0,2% dekat level terlemah sejak pertengahan Januari, karena pasar menimbang risiko inflasi impor energi di Eropa yang bisa menahan ruang pelonggaran kebijakan, meski pergerakannya cenderung terbatas jelang data lanjutan.
GBP/USD bergerak choppy dan berada di kisaran 1,34, ketika investor menghitung ulang risiko “oil supply shock” terhadap inflasi Inggris. Oxford Economics memperkirakan inflasi Inggris bisa 0,4 poin persentase lebih tinggi bila gangguan pengapalan di Selat Hormuz berlangsung hingga dua bulan.
AUD/USD menguat ke area 0,716–0,718, didukung perbaikan selera risiko dan perubahan ekspektasi kebijakan domestik, setelah sebagian bank besar Australia mulai mengantisipasi RBA kembali menaikkan suku bunga di tengah risiko inflasi energi.
USD/JPY bertahan tinggi di sekitar 158, mencerminkan yen yang masih rentan terhadap guncangan energi karena Jepang importir minyak, meski revisi data PDB Jepang sebelumnya memberi sinyal ketahanan domestik.
USD/CHF berada di kisaran 0,778, menandakan franc tidak selalu mengungguli dolar saat risk-off karena dolar tetap menjadi tujuan likuiditas global, apalagi ketika pasar masih menimbang jalur suku bunga AS di tengah ketidakpastian energi. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id