Dolar Cetak Tertinggi Baru, Saat Minyak Melonjak karena Risiko Hormuz
Dolar AS mencetak level tertinggi baru pada hari ini, sementara harga minyak naik menembus US$91 per barel setelah laporan tiga kapal terkena proyektil yang diduga terjadi di Selat Hormuz dan Teluk Persia. Perkembangan itu kembali menonjolkan keterkaitan minyak-dolar di tengah pasar yang sensitif terhadap headline geopolitik.
Indeks Spot Dolar Bloomberg sempat turun 0,2% setelah Wall Street Journal melaporkan IEA mengusulkan pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarah, namun berbalik menguat 0,1% pada hari ini seiring kenaikan minyak. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik 1 bps ke 4,16%, dengan pasar menanti data inflasi AS Rabu yang diperkirakan menunjukkan CPI Februari naik 2,4% (y/y).
Di Eropa, EUR/USD turun hingga 0,2% ke 1,1591 setelah sebelumnya sempat naik ke 1,1645 usai Peter Kazimir menyebut perang Iran dan dampaknya terhadap inflasi berisiko memaksa ECB menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan. Namun pergerakan euro tetap rapuh karena pasar menilai dinamika energi dan dolar lebih dominan dibanding perubahan ekspektasi kebijakan jangka pendek. EUR/CHF turun 0,3% ke 0,90095 dan EUR/GBP turun 0,1% ke 0,8641.
Di Asia-Pasifik, AUD/USD menguat hingga 0,9% ke 0,7186, level tertinggi sejak Juni 2022, di tengah penguatan kembali ekspektasi kebijakan RBA. Westpac, NAB, dan UBS memperkirakan RBA akan menaikkan suku bunga 25 bps pada pertemuan pekan depan, sementara Goldman Sachs menilai kenaikan pada 17 Maret sebagai “kemungkinan”.
Aktivitas pasar opsi turut mencerminkan penguatan tema suku bunga Australia. Sejumlah hedge fund dilaporkan membeli opsi beli AUD/NZD pada Selasa setelah komentar agresif dari Wakil Gubernur RBA Andrew Hauser, menambah sinyal bahwa pelaku pasar mulai menambah posisi yang mengantisipasi kebijakan lebih ketat.
Ke depan, pasar akan memantau dua pemicu utama: perkembangan keamanan pengiriman di Hormuz yang menentukan premi risiko minyak, serta rilis CPI AS yang membentuk jalur suku bunga The Fed. Kombinasi keduanya berpotensi menjaga volatilitas dolar dan pasangan FX utama tetap tinggi dalam beberapa sesi mendatang.(alg)
Sumber: Newsmaker.id