Dolar Menguat, The Fed Kirim Sinyal Dua Arah
Dolar AS memperpanjang penguatannya pada hari Rabu (18/2) setelah risalah rapat FOMC menegaskan nada kebijakan yang lebih “hati-hati” dan tidak lagi condong satu arah. Indeks dolar (DXY) berada di 97,68, naik sekitar 0,6%, mencetak penguatan beruntun dan membawa USD ke area tertinggi dalam sepekan.
Katalis utamanya datang dari isi risalah: beberapa pembuat kebijakan menilai pemangkasan suku bunga masih masuk akal jika inflasi turun sesuai ekspektasi. Namun, dokumen itu juga menunjukkan fungsi reaksi Fed tetap fleksibel—sebagian peserta menyebut keputusan mendatang perlu dibingkai lebih “dua sisi”, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga bila inflasi bertahan di atas target.
Di Eropa, euro ikut tertekan oleh rumor politik-kebijakan: laporan menyebut Presiden ECB Christine Lagarde berpotensi mundur lebih cepat, meski ECB menegaskan belum ada keputusan soal masa jabatan tersebut. Kombinasi rumor ECB + penguatan USD membuat EUR/USD turun ke 1,1786 atau sekitar -0,57%.
Pound ikut melemah di tengah spekulasi pelonggaran BoE setelah data Inggris melemah; GBP/USD berada di 1,3500, turun sekitar 0,43%.
Di Asia, penguatan dolar paling terasa terhadap yen: USD/JPY naik ke 154,80 atau sekitar 0,91%, sementara AUD/USD melemah ke 0,7047 atau turun sekitar 0,56% seiring arus kembali ke USD.
Sementara itu, dolar juga menguat terhadap dolar Kanada: USD/CAD di 1,3699 atau naik sekitar 0,45%, dengan pasar menimbang prospek suku bunga Kanada dan arah data AS berikutnya. Fokus pelaku pasar kini bergeser ke rangkaian data lanjutan, terutama inflasi PCE dan data pertumbuhan, yang bisa menentukan apakah penguatan dolar berlanjut atau mulai kehilangan tenaga. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id