Kashkari Dovish & Data Lemah, Dolar Makin Tertekan
Dolar AS kembali bergerak turun tipis pada Selasa (6/1), memperpanjang pelemahan hari kedua berturut-turut. Sentimen pasar membaik setelah ketegangan terkait operasi militer AS di Venezuela mulai mereda, sementara bursa saham global kembali menguat dan mendorong selera risiko investor.
Sejumlah mata uang utama mengambil ruang. Euro naik tipis ke sekitar $1,1729, poundsterling menguat sekitar 0,1% ke $1,3552, sementara dolar juga melemah tipis terhadap yen di kisaran 156,37. Reaksi pasar terhadap penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dinilai cepat mereda, karena fokus investor kembali ke arah risiko dan pertumbuhan.
Indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama turun sekitar 0,1% ke area 98,25. Pelemahan ini terjadi setelah dolar sempat menutup reli empat hari beruntun, menandakan dorongan beli dolar mulai kehilangan tenaga saat pasar lebih nyaman mengambil risiko.
Mata uang yang sensitif terhadap sentimen global justru tampil menonjol. Dolar Australia menembus level tertinggi lebih dari setahun di sekitar $0,6739, sedangkan dolar Selandia Baru naik tipis ke $0,5797. Pergerakan ini sejalan dengan penguatan saham dan membaiknya mood pasar.
Dari sisi data, dolar juga mendapat tekanan setelah rilis ekonomi AS menunjukkan sektor manufaktur masih rapuh. Aktivitas manufaktur tercatat menyusut lebih dalam dari perkiraan pada Desember, dan turun ke level terlemah dalam sekitar 14 bulan—membuat pasar kembali menghitung peluang pelonggaran kebijakan moneter.
Komentar dovish pejabat The Fed turut menambah beban. Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari menyinggung risiko tingkat pengangguran bisa naik lebih tinggi, yang mendorong spekulasi bahwa ruang pemangkasan suku bunga masih terbuka meski laju inflasi belum sepenuhnya jinak.
Namun, pasar belum sepenuhnya yakin The Fed akan segera bergerak. Kontrak berjangka suku bunga masih menempatkan peluang besar suku bunga tetap pada pertemuan akhir Januari, meski ekspektasi pelonggaran naik tipis setelah komentar Kashkari.
Di Asia, dolar melemah tipis terhadap yuan offshore ke sekitar 6,983. Sementara itu, franc Swiss menjadi pengecualian di antara mata uang utama: dolar justru naik tipis sekitar 0,08% ke 0,7922, menandakan permintaan aset defensif belum benar-benar hilang dari pasar. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id