Dolar Ngamuk, Data Kerja Hilang — Ada Apa dengan The Fed
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan USD terhadap enam mata uang utama, lanjut menguat untuk hari kelima berturut-turut dan diperdagangkan di kisaran 100,30 pada sesi Asia, Kamis(20/11) ini. Penguatan ini terjadi di tengah penantian pasar terhadap rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) AS bulan September yang akan keluar malam nanti, yang dianggap penting untuk membaca arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
Situasinya makin rumit karena Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) sudah menyatakan tidak akan merilis laporan ketenagakerjaan reguler untuk bulan Oktober. Alasannya, data survei rumah tangga tidak bisa dikumpulkan secara retroaktif setelah penutupan pemerintah. Angka-angka yang hilang itu baru akan dimasukkan ke dalam laporan November yang jadwalnya juga tertunda, sehingga The Fed akan kekurangan satu set data penting saat mengambil keputusan.
Dolar AS sendiri menguat lebih dari 0,5% pada sesi sebelumnya, mendekati level tertinggi lima bulan di 100,36 yang sempat tersentuh 5 November. Penguatan ini dipicu oleh Risalah Rapat FOMC terbaru, yang menunjukkan bahwa pasar mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada bulan Desember. Dalam risalah tersebut, para pejabat The Fed terlihat terpecah: banyak yang masih melihat penurunan suku bunga “tepat seiring waktu”, tetapi sebagian tidak menganggap pemangkasan di bulan Desember sebagai langkah yang pas.
Data dari CME FedWatch Tool kini menunjukkan pasar hanya melihat sekitar 33% peluang The Fed akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bps pada rapat Desember, turun tajam dari sekitar 63% seminggu lalu. Artinya, pelaku pasar makin condong percaya bahwa suku bunga tinggi akan dipertahankan lebih lama, dan itu menjadi bahan bakar utama penguatan dolar AS menjelang rilis NFP malam ini. (az)
Sumber: Newsmaker.id