Inflasi Australia Panas, Langkah RBA Selanjutnya Apa?
Dolar Australia (AUD) menguat terhadap Dolar AS (USD) pada hari Kamis(27/11), memperpanjang kenaikan ke sesi kelima berturut-turut. Pasangan AUD/USD terdorong naik seiring melemahnya greenback di tengah meningkatnya keyakinan bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada pertemuan Desember. Ekspektasi rate cut di AS membuat AUD terlihat lebih menarik dibanding USD di mata pelaku pasar.
Dari dalam negeri, sentimen positif untuk AUD datang dari rilis data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan. Biro Statistik Australia (ABS) melaporkan Belanja Modal Swasta kuartal III naik 6,4% quarter-on-quarter, melonjak dari 0,2% di kuartal sebelumnya dan jauh di atas ekspektasi 0,5%. Sehari sebelumnya, ABS juga merilis indeks harga konsumen (IHK) bulanan “lengkap” pertama yang naik 3,8% year-on-year pada Oktober, melampaui proyeksi 3,6% dan di atas kenaikan 3,5% sebelumnya. Kombinasi data ini memperkuat pandangan bahwa tekanan harga di Australia masih cukup kuat.
Kondisi tersebut membuat pasar menilai Reserve Bank of Australia (RBA) cenderung menahan suku bunga acuan di level 3,6% pada rapat Desember, mengingat inflasi masih berada di atas target 2–3%. Pejabat RBA memang mengakui tingkat pengangguran sedikit naik, namun menilai pasar tenaga kerja masih sehat. Kontrak ASX 30-Day Interbank Cash Rate Futures per 26 November bahkan hanya memunculkan peluang sekitar 6% untuk pemangkasan suku bunga ke 3,35%, menegaskan bahwa pasar lebih condong melihat RBA tetap hawkish halus, sekaligus memberi dukungan tambahan bagi penguatan AUD. (az)
Sumber: Newsmaker.id