Risk-Off Meningkat, Perak Melemah
Harga perak masih mengalami tekanan pada hari Rabu (22/10), dengan harga berada di $48,42/oz atau turun sekitar 0,3% di tengah kombinasi penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury yang menekan minat pada aset tanpa kupon. Nada “higher-for-longer” dari pejabat The Fed menjaga ekspektasi kebijakan tetap ketat, sehingga biaya peluang memegang logam mulia meningkat. Tekanan juga datang dari koreksi lanjutan emas setelah reli tajam sebelumnya, yang memicu aksi ambil untung lintas kompleks logam mulia dan menurunkan sentimen spekulatif jangka pendek.
Dari sisi fundamental permintaan, sinyal masih beragam. Prospek industri Tiongkok—konsumen utama perak untuk elektronik dan panel surya—tetap rapuh meski ada dukungan kebijakan, sementara aktivitas manufaktur Eropa belum pulih penuh. Di sisi lain, tema jangka menengah untuk perak masih konstruktif berkat ekspansi kapasitas energi surya, elektrifikasi kendaraan, dan kebutuhan solder/komponen semikonduktor. Aliran dana ke ETF perak cenderung menipis dalam beberapa pekan terakhir, menunjukkan kehati-hatian, sementara data posisi berjangka mengindikasikan pemangkasan net-long oleh spekulan.
Ke depan, arah perak akan ditentukan oleh rilis inflasi AS, data PMI global, dan kabar stimulus Tiongkok. Penguatan dolar berisiko memperpanjang tekanan, tetapi kejutan data yang lebih jinak atau sinyal pelonggaran kebijakan dapat memicu short-covering. Secara teknikal, pelaku pasar memantau area support dekat swing-low terbaru; tembus bersih membuka ruang koreksi lebih jauh, sementara reaksi beli di area itu bisa memantik rebound taktis menuju resistance terdekat. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id