Perak Turun ke Dekat US$66, Tekanan Jual Masuk Pekan Keempat
Harga perak melemah menuju US$66 per ons pada Senin, memperpanjang penurunan ke pekan keempat ketika konflik Timur Tengah kembali mengangkat kekhawatiran inflasi. Di saat yang sama, kebutuhan sebagian ekonomi besar untuk memperkuat likuiditas dinilai meningkatkan insentif menjual aset likuid, termasuk logam mulia, guna meredam dampak perang terhadap kondisi keuangan.
Perang Iran belum menunjukkan tanda mereda. Presiden AS Donald Trump mengancam serangan ke pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali, sementara Teheran memperingatkan akan menargetkan aset penting AS dan Israel di kawasan bila fasilitas energinya diserang. Risiko eskalasi ini menjaga harga energi tinggi dan memperkuat narasi inflasi yang menahan ruang pelonggaran kebijakan moneter.
Pekan lalu, perak turun lebih dari 15% setelah lonjakan minyak memicu repricing suku bunga global. Pasar mulai mem-price in jeda pelonggaran yang lebih lama, bahkan peluang kenaikan suku bunga, karena inflasi energi berisiko bertahan dan menular ke tekanan harga yang lebih luas.
Di AS, pelaku pasar semakin menimbang kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed menjelang akhir tahun di tengah kekhawatiran inflasi yang lebih persisten. Di luar AS, ECB, BoE, dan BoJ menahan suku bunga pekan lalu namun menyiratkan kesiapan untuk mengetatkan lagi jika tekanan inflasi bertahan.
Dengan latar tersebut, perak tetap rentan terhadap kombinasi energi mahal, dolar-yield yang cenderung kuat, serta dinamika likuiditas. Selama pasar menilai risiko inflasi energi lebih dominan dibanding risiko perlambatan, pemulihan perak berpotensi tetap terbatas dan volatilitas tinggi. (asd)
Sumber : Newsmaker.id