Perak Melejit Hampir 4%, Tembus $80,5 per Ons
Harga perak melonjak hampir 4% dan kembali diperdagangkan di atas $80,5 per ons, memperpanjang fase rebound setelah sebelumnya sempat “liar” dalam beberapa sesi terakhir. Kenaikan ini menunjukkan minat beli mulai kembali kuat, terutama saat pasar lagi sensitif terhadap headline geopolitik dan data AS.
Pendorong utama datang dari naiknya risiko geopolitik, khususnya memanasnya tensi Washington–Teheran. Setelah Presiden AS Donald Trump memasang deadline nuklir, Iran merespons dengan peringatan balasan bila terjadi serangan. Situasi ini menghidupkan lagi risk premium, dan perak—yang terkenal lebih volatil—cenderung “mengamplifikasi” reaksi pasar.
Di saat yang sama, pasar juga sedang menimbang arah kebijakan The Fed yang makin tidak jelas. Data GDP Q4 AS yang hanya 1,4% memberi sinyal pertumbuhan melambat, tetapi Core PCE yang lebih kuat (sekitar 3,0%) menunjukkan inflasi masih “lengket”. Campuran ini bikin pasar sulit menentukan apakah The Fed akan cepat longgar atau justru tetap ketat lebih lama.
Nada The Fed sendiri ikut menambah kebingungan. Risalah rapat FOMC menunjukkan adanya perbedaan pandangan (rifts), sementara data klaim pengangguran bertahan di 206 ribu—menandakan pasar tenaga kerja masih cukup solid. Kombinasi growth melemah + inflasi membandel ini membuat proyeksi real yield (yield riil) jadi lebih rumit, dan itu biasanya berdampak langsung ke logam mulia.
Dari sisi mikro pasar, likuiditas Asia sempat menipis karena libur Tahun Baru Imlek, terutama setelah fase “blow-off” dan aksi unwind spekulatif di kontrak berjangka China. Namun saat pasar mulai buka kembali, partisipasi yang pulih ikut menambah dorongan momentum pada perak.
Ke depan, perak dinilai mulai masuk fase yang lebih stabil, menyeimbangkan dua peran besar sekaligus: sebagai aset pelindung (safe haven) saat geopolitik memanas, dan sebagai logam industri yang krusial ketika narasi permintaan manufaktur/teknologi masih relevan.(yds)
Sumber: Newsmaker.id