Perak Stabil Naik, Pasar Menunggu Sinyal Cut Rate
Perak menguat ke sekitar $74 per ons pada Rabu, menghentikan pelemahan dua sesi beruntun. Kenaikan ini didorong aksi dip-buying dan penataan posisi investor menjelang rilis FOMC Meeting Minutes dari pertemuan The Fed bulan Januari.
Pasar saat ini masih memperhitungkan kemungkinan beberapa kali pemangkasan suku bunga dalam tahun ini, sebuah latar yang umumnya mendukung aset yang tidak memberi imbal hasil (non-yielding) seperti perak. Namun, ekspektasi tersebut belum sepenuhnya “lurus”, karena arah kebijakan masih sangat bergantung pada data berikutnya.
Komentar terbaru pejabat bank sentral memberi sinyal bahwa suku bunga bisa ditahan lebih lama, meski peluang pemangkasan tambahan tetap terbuka bila inflasi terus bergerak menuju target 2%. Karena itu, minutes menjadi bahan penting untuk membaca seberapa kompak The Fed: cenderung menahan, atau mulai membuka ruang pelonggaran.
Selain minutes, pelaku pasar juga memantau komentar lanjutan pejabat The Fed dan data ekonomi AS pekan ini, terutama GDP dan core PCE, untuk mengukur kekuatan ekonomi sekaligus arah inflasi. Di sisi lain, penguatan dolar sebelumnya dan meredanya ketegangan geopolitik sempat menekan permintaan safe-haven, sementara likuiditas pasar tetap tipis karena sebagian bursa Asia libur Imlek.
Dampak ke market: jika minutes bernada hawkish (tahan suku bunga lebih lama), biasanya dolar menguat, sementara emas dan perak cenderung tertekan. Jika minutes bernada dovish (lebih dekat ke cut), dolar melemah dan emas–perak berpeluang menguat. Untuk oil, responsnya lebih campuran: dolar yang lebih kuat bisa menahan harga minyak, tetapi arah akhirnya sering ditentukan kombinasi sentimen risiko dan headline geopolitik.(asd)
Sumber: Newsmaker.id