Perak Melonjak, Tapi Pasar Masih Penuh Kejutan
Harga perak melonjak lebih dari 10% ke sekitar $87,5/ons pada Selasa (3/2), memantul tajam setelah dua gelombang tekanan jual beruntun. Sebelumnya, perak sempat jatuh ekstrem—turun besar pada Jumat, lalu masih tertekan lagi pada Senin—membuat pergerakannya jadi salah satu yang paling liar dalam periode ini.
Pemicu utamanya datang dari “pembersihan” posisi setelah reli yang terlalu cepat. Banyak pelaku pasar mengunci profit usai perak mencetak rekor baru pekan lalu. Ketika harga mulai berbalik, efeknya cepat membesar karena pasar yang sudah dipenuhi posisi spekulatif biasanya sensitif terhadap stop-loss dan margin call.
Sentimen makin panas setelah Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai calon ketua Federal Reserve berikutnya. Warsh dipandang lebih “ketat” dalam membaca inflasi dibanding ekspektasi sebagian pasar, sehingga dolar dan yield sempat mendapat angin, lalu menekan logam mulia yang tidak memberi imbal hasil seperti perak.
Sebelum koreksi ini terjadi, perak ditopang kombinasi faktor besar: naiknya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, kekhawatiran pelemahan nilai mata uang, serta isu independensi bank sentral—yang mendorong minat aset safe haven. Di saat yang sama, cerita “pasokan” juga ikut memperkuat reli: pasar perak dinilai masih mengalami defisit struktural, lalu ditambah arus investasi yang deras, terutama dari spekulan China.
Ke depan, risiko geopolitik masih bisa jadi pemantik volatilitas baru. Pasar memantau agenda pembicaraan United States–Iran yang dijadwalkan Jumat, dan perkembangan perang Russia–Ukraine di tengah rencana negosiasi damai baru. Artinya: perak bisa lanjut pulih, tapi jalannya kemungkinan tetap “bergelombang”. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id