Saudi Pangkas Harga, Minyak Tertekan
Harga minyak masih tertahan dalam tren pelemahan setelah Arab Saudi memangkas harga jual minyak utamanya untuk pembeli Asia. Brent bergerak di sekitar US$72 per barel, sementara pasar terus mencari petunjuk terbaru mengenai arus pengiriman melalui Selat Hormuz.
Arab Saudi melakukan pemangkasan harga terbesar dalam beberapa tahun terakhir untuk minyak Arab Light. Bahkan, Saudi menawarkan diskon yang jarang terjadi. Langkah ini menjadi sinyal bahwa persaingan antarprodusen mulai meningkat karena pasokan dari Teluk Persia kembali mengalir ke pasar global.
Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari pemulihan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Sejumlah kapal yang terhubung dengan Jepang terlihat melintasi jalur dekat Iran pada Senin, sementara koridor yang dilindungi Amerika Serikat juga menunjukkan tanda pemulihan. Sebelumnya, beberapa kapal sempat berbalik arah dan mengambil rute memutar tanpa penjelasan jelas.
Di sisi lain, OPEC+ kembali memberi sinyal penambahan pasokan. Tujuh negara yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia sepakat menaikkan kuota produksi sebesar 188.000 barel per hari untuk bulan depan. Meski tambahan barel ini belum sepenuhnya masuk ke pasar, keputusan tersebut menunjukkan keinginan produsen untuk meningkatkan output saat kondisi kawasan mulai normal.
Namun, risiko di Selat Hormuz belum sepenuhnya hilang. Analis RBC Capital Markets menilai lalu lintas kapal kemungkinan masih berada di bawah level sebelum perang karena ancaman keamanan tetap ada dan Iran masih ingin mempertahankan kendali operasional di jalur tersebut. Artinya, meski pasokan membaik, pasar belum sepenuhnya bebas dari risiko geopolitik.
Brent sebelumnya anjlok sekitar 30% pada kuartal kedua setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati kesepakatan damai sementara. Kini, beberapa bank Wall Street memperkirakan harga minyak masih berisiko turun lebih jauh, bahkan Citigroup melihat peluang menuju US$60 per barel pada akhir tahun. Tekanan tambahan juga terlihat dari struktur pasar Brent dan Dubai yang berubah ke pola contango, tanda bahwa pasokan jangka pendek mulai lebih longgar.(yds)
Sumber: newsmaker.id