• Fri, Jun 26, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

26 June 2026 07:30  |

Minyak Bertahan Menguat Usai Serangan Kapal di Hormuz

Harga minyak masih menahan sebagian besar kenaikan setelah sebuah kapal kargo diserang di sekitar Selat Hormuz. Insiden tersebut kembali memicu kekhawatiran terhadap keselamatan jalur pelayaran vital itu, meskipun arus kapal sebelumnya mulai meningkat setelah adanya kemajuan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.

Brent diperdagangkan di sekitar US$75 per barel setelah naik lebih dari 2% pada sesi sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI berada di bawah US$72 per barel. Pada perdagangan Kamis, Brent sempat menghapus seluruh kenaikan akibat perang, sebelum kembali menguat setelah laporan serangan terhadap kapal di tenggara Oman.

Serangan tersebut terjadi ketika kapal-kapal mulai kembali melintasi Selat Hormuz secara terbuka. Pembukaan jalur ini sebelumnya menambah jutaan barel minyak ke pasar global dan sempat menekan harga minyak dalam beberapa hari terakhir. Namun, insiden terbaru membuat pasar kembali mempertanyakan seberapa cepat arus minyak dari Teluk Persia dapat benar-benar normal.

Pembicaraan lanjutan antara Washington dan Teheran diperkirakan masih akan berlangsung panjang, terutama terkait isu nuklir dan pengaturan keamanan jalur pelayaran. Meski demikian, harga minyak telah turun tajam dalam beberapa waktu terakhir dan masih berada di jalur pelemahan mingguan ketiga. Futures Brent bahkan sudah turun lebih dari 6% sepanjang pekan ini.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa kapal tersebut terkena serangan Iran. Namun, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan masih terlalu dini untuk memastikan pihak yang bertanggung jawab atas serangan itu. Menurut pejabat tersebut, Amerika Serikat masih menyelidiki siapa pelaku di balik serangan tersebut.

Insiden ini juga terjadi ketika beberapa kapal komersial dilaporkan berbalik arah saat mencoba melintasi Selat Hormuz. International Maritime Organization atau IMO, regulator pelayaran global di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyatakan bahwa pihaknya menghentikan sementara operasi evakuasi kapal di selat tersebut untuk memastikan kembali aspek keselamatan.

Saat ini, terdapat dua rute keluar utama melalui Hormuz karena jalur normal di bagian tengah diduga masih memiliki risiko ranjau. Salah satu rute berada dekat Iran, sementara rute lainnya mengikuti garis pantai Oman dan dilindungi oleh Amerika Serikat. Namun, Otoritas Selat Teluk Persia Iran menyatakan bahwa kapal yang melintas di luar kerangka rute yang ditentukan tidak akan mendapat jaminan keselamatan.

Presiden AS Donald Trump pada Kamis malam mengatakan bahwa Selat Hormuz telah terbuka. Pernyataan itu disampaikan di Gedung Putih saat ia menyebut Iran akan membeli produk pertanian AS dengan dana aset yang dibekukan, klaim yang kemudian dibantah oleh Teheran.

Analis BOK Financial Securities, Dennis Kissler, menilai kenaikan harga minyak setelah serangan tersebut lebih terlihat sebagai pergerakan short-covering. Menurutnya, pasar minyak yang sudah berada dalam kondisi sangat oversold berpotensi mengalami koreksi sementara sebelum tekanan jual baru kembali muncul.

Sebelum insiden ini, minyak dari Teluk Persia sempat mengalir keluar melalui Selat Hormuz dengan laju tercepat sejak perang dimulai. Goldman Sachs memperkirakan ekspor Teluk saat ini telah berjalan hampir dua pertiga dari kondisi normal, sementara laju penurunan persediaan global yang terlihat mulai melambat.

Namun, produsen minyak Teluk masih menghadapi tantangan dalam mengamankan kapal tanker untuk mengangkut minyak keluar dari kawasan tersebut. Irak bahkan terpaksa menghentikan produksi di salah satu ladang utamanya karena kekurangan kapal. Di sisi lain, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar terus meningkatkan pasokan.

Iraq juga sedang berupaya memperoleh kuota produksi OPEC yang lebih tinggi untuk menutup penjualan minyak yang hilang selama perang. Meski sempat muncul wacana bahwa negara itu dapat mempertimbangkan keluar dari OPEC, Kementerian Perminyakan Irak kemudian menegaskan bahwa keluar dari kelompok tersebut belum menjadi posisi resmi pemerintah.

Dengan kondisi ini, pasar minyak masih berada di antara dua kekuatan besar. Di satu sisi, normalisasi arus Hormuz dan kenaikan produksi Teluk dapat menekan harga. Namun di sisi lain, serangan kapal dan ketidakpastian keamanan jalur pelayaran membuat premi risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang dari harga minyak.(asd)*

Sumber: Newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

Minyak Melonjak, Serangan Rudal Iran ke Israel Uji Gencatan ...

Harga minyak menguat tajam pada Senin setelah Iran meluncurkan beberapa gelombang rudal ke arah Israel, meningkatkan kekhawat...

8 June 2026 07:33
OIL

API Laporkan Lonjakan Stok AS, Minyak Melunak!

Harga minyak melemah tipis pada Rabu pagi setelah data American Petroleum Institute (API) menunjukkan kenaikan persediaan min...

18 March 2026 08:44
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai