Harga Minyak Turun, Selat Hormuz Dipantau
Harga minyak dunia turun lebih dari US$1 pada perdagangan Selasa, seiring pelaku pasar memantau kembali arus minyak mentah melalui Selat Hormuz. Pergerakan ini terjadi di tengah tanda-tanda kemajuan dalam pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang mulai meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Kontrak minyak mentah Brent melemah US$1,18 atau sekitar 1,2% ke level US$76,72 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun US$1,18 atau 1,6% menjadi US$72,68 per barel pada pukul 10.06 pagi waktu setempat atau 14.06 GMT. Sebelumnya, WTI sempat menyentuh level terendah hampir empat bulan di US$72,48 per barel.
Tekanan terhadap harga minyak sudah terlihat sejak perdagangan Senin, ketika harga turun lebih dari 3%. Penurunan tersebut terjadi setelah Amerika Serikat memberikan pengecualian sanksi kepada Iran selama 60 hari menyusul pembicaraan damai tahap awal. Selain itu, sejumlah pejabat juga melaporkan meredanya permusuhan di Lebanon sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih luas.
Dari kawasan Teluk, Oman dan Iran pada Selasa sepakat untuk melanjutkan diskusi terkait pengelolaan navigasi di Selat Hormuz pada masa mendatang. Pembahasan tersebut mencakup layanan maritim di jalur air strategis itu serta biaya yang berkaitan dengannya. Sementara itu, sejumlah kapal dalam jumlah terbatas disebut telah diizinkan melewati selat setiap hari melalui koordinasi dengan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran.
Data pelacakan kapal menunjukkan dua kapal tanker super yang sebelumnya tertahan telah melewati Selat Hormuz pada Selasa. Selain itu, tujuh kapal tanker gas alam cair atau LNG kosong yang terkait dengan Qatar juga telah memasuki selat dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini menjadi sinyal awal bahwa pengiriman gas dari kawasan Teluk berpotensi kembali bergerak.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut sekitar 19 juta barel minyak mengalir keluar dari Selat Hormuz pada Senin. Ia juga menyoroti penurunan harga minyak melalui unggahan di media sosial pada Selasa. Meski demikian, analis pasar SEB Research, Ole Hvalbye, menilai pelonggaran sanksi dalam jangka pendek belum akan terlalu membebani harga minyak karena nota kesepahaman AS-Iran masih tergolong baru dan rapuh.
Selat Hormuz menjadi titik penting bagi pasar energi global karena sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia melewati jalur tersebut. Namun, perang yang sempat menutup selat selama lebih dari tiga bulan telah menghilangkan jutaan barel pasokan minyak dan gas dari pasar. Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai pemilik dan operator kapal masih membutuhkan jaminan bahwa ancaman ranjau benar-benar telah dihilangkan. Selain itu, pelabuhan yang rusak, puing-puing di perairan, dan potensi kemacetan masih menjadi hambatan bagi peningkatan lalu lintas kapal secara penuh.
Di sisi pasokan, Irak juga meningkatkan produksi dari ladang minyak selatannya menjadi sekitar 2,1 juta barel per hari, seiring bertambahnya kapal tanker yang bersiap memuat minyak mentah dari terminal ekspor Teluk. Sementara itu, Rabobank memangkas proyeksi harga minyak karena menurunnya risiko gangguan di kawasan Teluk. Lembaga tersebut kini memperkirakan Brent berada di level US$79 per barel pada kuartal ketiga dan US$78 per barel pada kuartal keempat.
Meski harga minyak tertekan, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Hizbullah Lebanon menyebut pasukan Israel menembaki warga sipil di Lebanon selatan pada Selasa dan menilai insiden tersebut melanggar kesepakatan gencatan senjata. Di Amerika Serikat, pasar juga menunggu data persediaan energi. Berdasarkan jajak pendapat awal Reuters, persediaan minyak mentah, bensin, dan solar diperkirakan turun pada pekan lalu, dengan rata-rata proyeksi penurunan stok minyak mentah sekitar 5 juta barel untuk pekan yang berakhir pada 19 Juni.(gn)
Sumber: Newsmaker.id