Minyak Rebound, Deal AS–Iran Buntu?
Harga minyak menguat dari level terendah enam pekan pada Senin (01/6), seiring pasar menimbang ketidakpastian prospek kesepakatan damai untuk mengakhiri perang di Iran. Brent naik ke sekitar US$93 per barel setelah Jumat ditutup di level terendah sejak pertengahan April, sementara WTI bergerak mendekati US$90.
Pemicu utama datang dari diplomasi yang belum solid: AS dan Iran bertukar pesan selama akhir pekan untuk mengusulkan perubahan pada draf kesepakatan yang menargetkan perpanjangan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, pasar belum melihat tanda kemajuan yang jelas, sehingga premi risiko pasokan masih bertahan.
Stalemate ini muncul setelah fase optimisme bahwa arus energi melalui Hormuz akan pulih, yang sempat memicu penurunan bulanan pertama harga minyak tahun ini. Meski demikian, Brent masih naik lebih dari seperempat sejak perang dimulai pada akhir Februari, mencerminkan dampak penutupan jalur vital tersebut terhadap keseimbangan suplai dan volatilitas pasar.
Komentar dari Presiden Donald Trump menambah fokus pada syarat kesepakatan, termasuk tuntutan agar Iran tidak memiliki senjata nuklir, menghentikan program nuklir, serta memulihkan Hormuz sebagai jalur pelayaran internasional yang terbuka. Tasnim melaporkan amandemen terus diajukan kedua pihak, namun tetap ada risiko kesepakatan kolaps jika perubahan ditolak.
Di lapangan, eskalasi regional turut menjaga sentimen tetap rapuh setelah Israel melakukan operasi paling luas di Lebanon dalam seperempat abad, sementara Hezbollah meningkatkan serangan ke wilayah Israel utara. Risiko keamanan pelayaran juga tetap tinggi; sebagian tanker berhasil keluar dari Teluk Persia secara bertahap, namun serangan terhadap beberapa kapal yang melintas dalam beberapa hari terakhir menegaskan risiko nyata bagi pelayaran komersial.
Untuk arah harga, pasar menghadapi risiko dua sisi: di satu sisi, gangguan suplai dan risiko pelayaran di Timur Tengah menopang harga; di sisi lain, kekhawatiran pelemahan permintaan global membatasi ruang kenaikan. Goldman Sachs menilai tekanan permintaan yang terlihat dari lemahnya data penjualan minyak April di China dan Eropa Barat menambah risiko penurunan terhadap proyeksi Brent kuartal IV, meski konflik Iran tetap menyisakan potensi kehilangan pasokan. Pada perdagangan siang di Singapura, Brent kontrak Agustus tercatat naik sekitar 2,1% ke US$93,07, sementara WTI kontrak Juli naik 2,6% ke US$89,67.(asd)
Sumber: Newsmaker.id