Minyak Naik, Deal AS-Iran Masih Buntu
Harga minyak menguat pada Senin bersamaan dengan penguatan dolar AS, ketika negosiasi untuk memperpanjang gencatan senjata AS-Iran masih belum menunjukkan tanda terobosan. Penguatan minyak terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang kembali menjadi pusat perhatian pasar, terutama karena pembicaraan untuk membuka kembali Selat Hormuz dinilai berjalan lambat.
Brent naik ke atas US$93 per barel, memantul dari penutupan terendah sejak pertengahan April. Di saat yang sama, West Texas Intermediate (WTI) naik 2,7% ke US$89,69 per barel. Kenaikan ini datang setelah minyak mencatat penurunan bulanan paling tajam dalam lebih dari enam tahun, sehingga rebound terbaru menjadi uji apakah pasar mulai menilai ulang risiko pasokan dan premi geopolitik.
Nada “safe haven” juga terlihat di pasar valas dan obligasi. Dolar menguat tipis terhadap seluruh mata uang utama G-10, sementara imbal hasil US Treasury bergerak naik di sepanjang kurva. Yield acuan 10 tahun naik sekitar tiga basis poin ke 4,46%, menandakan investor kembali memperhitungkan kemungkinan tekanan inflasi berbasis energi jika gangguan pasokan atau biaya transportasi meningkat.
Kondisi geopolitik pada akhir pekan menambah lapisan risiko. Serangan misil balistik Iran ke pangkalan udara Kuwait dilaporkan menimbulkan cedera ringan pada beberapa warga AS, sementara Israel meningkatkan ofensif terhadap Hezbollah di Lebanon. Di sisi diplomasi, AS dan Iran saling bertukar pesan berisi usulan amandemen draf kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka Selat Hormuz, namun progresnya masih dipertanyakan.
Sejumlah pelaku pasar menilai ketidakpastian ini berpotensi menjaga volatilitas tetap tinggi. Kyle Rodda dari Capital.com menyebut negosiasi AS-Iran masih menjadi sumber risiko yang dapat memicu pergerakan harga, termasuk karena pasar perlu memilah antara sinyal politik dan kemajuan nyata di meja perundingan. Laporan media AS juga menyebut Presiden Donald Trump sempat menyatakan siap membuat “keputusan final” atas kesepakatan awal, tetapi pertemuan di Situation Room berakhir tanpa keputusan.
Bagi pasar, kanal utamanya tetap sama: ketegangan Timur Tengah berisiko mendorong premi risiko minyak, yang pada gilirannya dapat memperkuat kekhawatiran inflasi energi dan mempengaruhi ekspektasi suku bunga. Variabel yang dipantau pekan ini mencakup arah negosiasi AS-Iran dan status Selat Hormuz, eskalasi keamanan regional, respons dolar dan yield AS, serta sinyal permintaan global—termasuk data aktivitas pabrik China yang melambat pada Mei.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id