Minyak Melonjak, Serangan Baru Uji Gencatan Senjata dan Prospek Deal Hormuz
Harga minyak melonjak setelah serangan baru di Teluk Persia dan langkah sanksi terbaru AS meningkatkan tekanan terhadap Iran, sementara kedua pihak masih berbeda pandangan soal pembukaan kembali Selat Hormuz. Brent naik kembali mendekati US$98 per barel setelah turun lebih dari 5% pada Rabu, sementara WTI bergerak di atas US$92.
Menurut seorang pejabat AS, pasukan Amerika melakukan serangan udara ke sebuah lokasi militer dan menargetkan beberapa titik di sekitar Hormuz. IRGC kemudian mengklaim menargetkan pangkalan AS yang digunakan untuk meluncurkan serangan tersebut. Di saat yang sama, pertahanan udara Kuwait menyebut sedang merespons ancaman rudal dan drone, menegaskan betapa rapuhnya gencatan senjata yang berjalan.
AS juga menjatuhkan sanksi kepada Persian Gulf Strait Authority, badan yang dibentuk Iran untuk mengelola Hormuz. Washington menyatakan entitas tersebut berperan dalam skema yang melanggar hukum internasional dan berpotensi digunakan untuk memungut biaya lewat jalur pelayaran. Langkah ini memperbesar friksi karena salah satu titik sengketa utama negosiasi adalah apakah Iran akan tetap memegang kontrol atas lalu lintas selat, yang saat ini masih berada di bawah blokade ganda Iran dan AS.
Meski harga menguat hari ini, minyak masih berada di jalur penurunan mingguan kedua karena sebagian pasar masih memegang skenario kesepakatan sementara tetap mungkin tercapai. Namun optimisme “deal segera” mulai memudar, terutama karena isu nuklir, tuntutan Iran terkait kontrol Hormuz, serta posisi Trump yang menolak pelonggaran sanksi dan menyebut tidak akan menyetujui “bad deal”.
Di pasar fisik, American Petroleum Institute (API) melaporkan stok minyak AS turun 2,8 juta barel pekan lalu, termasuk penurunan di Cushing, Oklahoma, sementara data resmi pemerintah dijadwalkan rilis Kamis. Pengurangan persediaan ini menambah dukungan jangka pendek pada harga, terutama saat risiko pasokan kembali meningkat.
Arah berikutnya tetap headline-driven. Jika gencatan senjata kembali pecah atau serangan meluas ke infrastruktur energi, premi risiko berpotensi naik cepat, terutama ketika buffer persediaan dianggap menipis. Sebaliknya, jika ada kemajuan yang bisa diverifikasi terkait pembukaan Hormuz, reli bisa kembali terkoreksi. Pasar juga mulai menghubungkan volatilitas minyak dengan inflasi dan suku bunga, karena gangguan pasokan yang berkepanjangan berisiko menjaga tekanan inflasi dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.(asd)*
Sumber : Newsmaker.id