Minyak Melemah, Pasar Cari Kepastian Deal AS–Iran dan Arah Hormuz
Harga minyak turun dari level tertinggi terbaru pada Rabu, memangkas sebagian kenaikan sekitar 4% pada sesi sebelumnya ketika pelaku pasar menunggu kejelasan negosiasi AS–Iran setelah permusuhan baru kembali mengganggu upaya pembukaan Selat Hormuz.
Brent berada di sekitar US$94,1 per barel dan WTI di sekitar US$91,3 per barel. Pergerakan ini mencerminkan pasar yang kembali mengurangi premi risiko setelah reli Selasa dipicu serangan terbaru AS di Iran yang merusak optimisme akhir pekan terkait peluang kesepakatan cepat.
Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata lewat serangan dekat Selat Hormuz, sementara Washington menyebut serangan bersifat defensif. Eskalasi regional juga bertambah setelah Israel meningkatkan pemboman di Lebanon, menambah lapisan ketidakpastian geopolitik bagi pasar energi.
Meski demikian, harapan pembukaan kembali jalur pelayaran belum sepenuhnya hilang. Setelah gencatan senjata April dalam konflik yang telah berjalan sekitar tiga bulan, kedua pihak sempat memberi sinyal progres menuju pembukaan kembali selat, dan kabar bahwa beberapa tanker LNG melintasi selat dalam beberapa hari terakhir turut menjaga ekspektasi bahwa pasokan bisa mulai pulih secara bertahap.
Bagi pasar, kunci jangka pendek tetap pada “eksekusi”, bukan sekadar headline. Selama status operasional Hormuz belum benar-benar normal, harga minyak berpotensi tetap sensitif terhadap perubahan persepsi risiko pasokan dan inflasi energi, terutama ketika negosiasi dan dinamika militer bergerak bersamaan.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id