Harga Minyak Merosot di Tengah Ketidakpastian Iran
Harga minyak turun pada Rabu (20/5) seiring pasar menunggu perkembangan lebih lanjut dari negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Brent untuk Juli, patokan global, turun 2,5% menjadi $109,25 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 1,9% menjadi $102,35 per barel, setelah kedua kontrak juga melemah sekitar 1% pada Selasa.
Dua kapal supertank berbendera China telah meninggalkan Selat Hormuz pada Rabu, menimbulkan harapan aliran pasokan kembali normal melalui jalur vital tersebut. Sebuah kapal berbendera Korea Selatan juga keluar dari selat sempit di pantai selatan Iran, yang telah hampir tertutup sejak awal perang AS-Israel melawan Iran pada akhir Februari.
Presiden AS Donald Trump mengatakan perang dengan Iran bisa berakhir “sangat cepat” setelah menunda serangan militer yang direncanakan. Wakil Presiden JD Vance menambahkan bahwa Iran menunjukkan keinginan untuk mencapai kesepakatan, memberikan sentimen positif bagi pasar energi.
Dalam proposal perdamaian terbaru, Iran meminta penghentian permusuhan di semua front, penarikan pasukan AS, serta kompensasi atas kerusakan perang. Namun, AS menolak sebagian besar tawaran sebelumnya, menekankan bahwa pengakhiran ambisi nuklir Iran tetap menjadi syarat utama.
Pasar juga menantikan data persediaan minyak AS yang akan dirilis untuk menilai stok minyak di tengah gangguan pasokan yang berlanjut. Data American Petroleum Institute menunjukkan penurunan 9,1 juta barel minggu lalu, jauh di atas perkiraan 3,4 juta barel, yang biasanya menjadi sinyal bagi data resmi pemerintah.
Seiring AS meningkatkan ekspor minyak untuk menutupi kekurangan pasokan global, Trump telah memerintahkan pelepasan 172 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve guna menahan lonjakan harga akibat konflik Iran. Aksi ini diharapkan dapat meredakan ketegangan pasokan sementara harga minyak tetap dipantau ketat oleh investor. (Arl)*
Sumber : Newsmaker.id