Minyak Menguat, Futures AS Melemah saat Talks AS–Iran Mandek
Harga minyak menguat pada awal pekan sementara kontrak berjangka saham AS melemah, setelah upaya melanjutkan pembicaraan damai AS–Iran kembali tersendat dan memperpanjang penutupan efektif Selat Hormuz. Ketidakpastian ini menekan sentimen risiko karena pasar kembali menilai dampak gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Brent naik sekitar 2% ke atas $107 per barel, sementara WTI menguat 1,8% ke $96,14. Di sisi lain, S&P 500 futures turun 0,2% setelah indeks acuan ditutup pada rekor pada Jumat, sedangkan dolar menguat terhadap mayoritas mata uang utama dan mata uang sensitif risiko melemah.
Di pasar obligasi, Treasuries melemah tipis dan imbal hasil US 10-tahun naik 2 bps ke 4,33%, setelah Departemen Kehakiman menghentikan penyelidikan terkait Federal Reserve. Emas turun 0,7% ke sekitar $4.675 per ons, mencerminkan kombinasi dolar yang lebih kuat dan fokus pasar pada risiko inflasi dari energi.
Perubahan sentimen ini muncul setelah pembicaraan kembali tersendat pada akhir pekan, ketika Trump membatalkan perjalanan utusannya dan Teheran menyatakan tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman. Meski ekuitas global sudah pulih dari sebagian besar penurunan terkait perang dan kembali ke area rekor, reli kini memasuki fase uji karena pekan ini ada keputusan kebijakan dari The Fed dan ECB, serta laporan kinerja emiten teknologi besar.
Pelaku pasar menilai “war trades” kembali aktif, namun belum sepenuhnya dengan keyakinan tinggi, karena sebagian investor masih berharap gencatan bertahan dan negosiasi pada akhirnya berjalan. Meski begitu, kombinasi minyak yang lebih tinggi dan kekhawatiran inflasi membuat pasar tetap sensitif terhadap headline, terutama menjelang rangkaian keputusan bank sentral mulai Selasa, termasuk dari Bank of Japan.(asd)
Sumber: Newsmaker.id*