Minyak Turun, Sinyal Pembicaraan AS-Iran Menahan Premi Blokade Hormuz
Harga minyak melemah pada perdagangan terbaru karena muncul tanda-tanda Washington dan Teheran mungkin menghidupkan kembali jalur perundingan, meski blokade AS di Selat Hormuz sudah dimulai. Brent turun tipis ke sekitar $98 per barel, sementara WTI berada di dekat $96, dengan pelaku pasar memantau kapal-kapal terkait China yang berpotensi menguji pembatasan baru.
Iran disebut mempertimbangkan penghentian sementara pengiriman minyak melalui Hormuz untuk menghindari “uji kekuatan” terhadap blokade AS yang bisa menggagalkan putaran pembicaraan berikutnya. Langkah tersebut dipandang sebagai upaya menurunkan ketegangan jangka pendek demi menjaga ruang diplomasi.
Sumber-sumber menyebut kedua pihak membahas penyelenggaraan putaran negosiasi tatap muka lain untuk mendorong gencatan senjata jangka panjang. Targetnya adalah tersusun sebelum jeda permusuhan dua minggu yang diumumkan pada 7 April berakhir pekan depan, dan Reuters melaporkan tim negosiasi bisa kembali ke Pakistan minggu ini.
Di sisi fundamental permintaan, Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan konflik berisiko menghapus pertumbuhan permintaan minyak tahun ini, yang akan menjadi penurunan tahunan pertama sejak pandemi. Kepala IEA juga menilai harga saat ini belum sepenuhnya mencerminkan skala krisis yang ia sebut belum pernah terjadi sebelumnya.
Dari sisi pasokan, perang telah merusak infrastruktur energi dan Iran sebelumnya memutus lalu lintas Hormuz, memicu guncangan suplai. Pada Senin, AS meningkatkan tekanan dengan memblokir kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan di Teluk Persia Iran maupun wilayah pesisirnya, membuat pasar sulit menilai apakah arus energi bisa cepat pulih.
Perkembangan di laut ikut menjadi barometer: data pelacakan menunjukkan sebuah tanker yang dikenai sanksi AS dan terkait China tampak berbalik arah setelah melewati selat sebagai uji sikap baru AS, meski belum jelas apakah kapal itu singgah ke pelabuhan Iran atau membawa kargo. Sementara itu, Arab Saudi dilaporkan mendesak AS mencabut blokade dan kembali ke meja perundingan karena khawatir langkah itu mendorong gangguan pada jalur pelayaran vital lain; tekanan inflasi energi juga masih terasa, dengan harga bensin dan diesel AS sempat naik ke level tertinggi sejak 2022, dan bahan bakar jet serta diesel di Eropa melonjak ke rekor tertinggi mendekati di atas $200 per barel.(gn)*
Sumber: Newsmaker.id