Minyak Turun, AS–Iran Buka Peluang Bicara?
Harga minyak melemah setelah muncul sinyal Washington dan Teheran dapat menghidupkan kembali pembicaraan damai, meski blokade AS terkait Selat Hormuz sudah mulai diberlakukan. West Texas Intermediate (WTI) bergerak turun ke area US$96 per barel, sementara Brent berada di sekitar US$99, mencerminkan pasar yang menimbang risiko pasokan versus peluang deeskalasi.
Sumber yang mengetahui pembahasan mengatakan AS dan Iran tengah mendiskusikan negosiasi lanjutan untuk menuju gencatan senjata jangka panjang. Targetnya, pembicaraan digelar sebelum gencatan senjata dua pekan yang diumumkan 7 April berakhir, sehingga pasar kembali menguji apakah jalur diplomasi masih bisa menahan eskalasi lebih lanjut.
Dari Washington, Presiden Donald Trump mengatakan Iran telah menghubungi pemerintahannya dan “ingin membuat kesepakatan.” Dari Teheran, Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan Iran siap melanjutkan pembicaraan damai dalam kerangka hukum dan regulasi internasional. Sinyal ini membantu membatasi premi risiko minyak, meskipun konflik sudah memasuki pekan ketujuh dan tetap menekan pasar energi.
Namun risiko pasokan tetap tinggi karena perang AS–Israel–Iran memicu guncangan suplai besar: infrastruktur energi terdampak dan lalu lintas Hormuz sebelumnya tersendat akibat pengetatan Iran. Pada Senin, AS menaikkan tekanan lewat blokade kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran di Teluk Persia, meningkatkan ketidakpastian terhadap arus ekspor di kawasan.
Wakil Presiden JD Vance, yang memimpin delegasi AS dalam pembicaraan Pakistan yang gagal akhir pekan lalu, mengatakan blokade meningkatkan leverage AS terhadap Iran, sembari mengakui dampak kenaikan harga bensin bagi konsumen AS—yang disebut berada di level tertinggi sejak 2022. Ia mengatakan AS menilai telah “mencapai tujuan” dan “bisa mulai menurunkan intensitas.”
Pasar kini menunggu sinyal fundamental berikutnya, termasuk Oil Market Report IEA yang dijadwalkan rilis Selasa untuk memperbarui gambaran suplai-permintaan. Kepala IEA Fatih Birol mengatakan harga minyak saat ini belum sepenuhnya mencerminkan tingkat keparahan krisis pasokan, namun akan segera menyusul. Data OPEC juga menunjukkan output minyak mentah OPEC mencatat penurunan tajam bulan lalu ketika konflik menekan ekspor anggota kunci.
5 Poin Inti :
- Minyak melemah karena peluang pembicaraan AS–Iran muncul lagi meski blokade masih berjalan.
- WTI turun ke area US$96, Brent di sekitar US$99.
- AS dan Iran disebut menyiapkan negosiasi lanjutan sebelum ceasefire 2 pekan (7 April) berakhir.
- Blokade AS menyasar kapal ke/dari pelabuhan Iran, menjaga risiko pasokan dan volatilitas tinggi.
- Pasar menanti laporan bulanan IEA; Birol menilai harga belum mencerminkan penuh krisis suplai.(asd)
Sumber: Newsmaker.id