Brent Turun saat Premi Risiko Geopolitik Menyusut
Harga minyak Brent turun ke sekitar US$106 per barel pada perdagangan Senin, berdasarkan pantauan TradingView, setelah reli tajam beberapa sesi sebelumnya. Pelemahan ini mencerminkan sebagian pelepasan premi risiko ketika pasar menilai peluang de-eskalasi mulai terbuka, meski ketidakpastian masih tinggi.
Salah satu faktor yang menahan kenaikan adalah munculnya harapan diplomasi terkait perang yang melibatkan Iran, termasuk pembicaraan gencatan sementara. Ketika pasar melihat peluang jeda konflik, sebagian pelaku cenderung mengurangi posisi “risk premium” yang sebelumnya mendorong harga minyak lebih tinggi.
Namun penurunan Brent tetap rapuh karena risiko pasokan belum hilang, terutama terkait Selat Hormuz yang menjadi jalur penting bagi pengapalan energi. Selama status pelayaran, keamanan kapal, dan biaya asuransi tetap menjadi perhatian, pergerakan harga minyak cenderung sensitif terhadap perubahan headline geopolitik.
Dari sisi fundamental makro, pergerakan minyak tetap menjadi kanal transmisi utama ke inflasi melalui biaya bahan bakar, logistik, dan input produksi. Jika harga energi kembali naik, pasar berpotensi menilai ulang prospek inflasi dan jalur suku bunga, yang pada gilirannya memengaruhi selera risiko di aset lain.
Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada perkembangan konkret pembicaraan gencatan, kondisi akses pelayaran di Selat Hormuz, serta sinyal pasokan dari produsen utama. Data permintaan dan persediaan mingguan, serta respons pasar fisik terhadap perubahan rute pengapalan, juga akan menjadi variabel kunci yang menentukan apakah Brent bertahan di sekitar US$106 atau kembali membangun premi risiko.(Zaf)
Sumber: Newsmaker.id