Harga Minyak Naik, Ketegangan Hormuz Memanas Usai Ultimatum AS ke Iran
Harga minyak menguat pada perdagangan Asia setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan tenggat baru kepada Teheran dan menyatakan akan meningkatkan tekanan jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali. Jalur pelayaran itu masih dibatasi ketat, sehingga kekhawatiran gangguan pasokan tetap tinggi.
Brent untuk penyelesaian Juni naik 1,3% menjadi US$110,44 per barel pada pukul 07.06 di Singapura. WTI untuk pengiriman Mei menguat 1,4% menjadi US$113,12 per barel, mencerminkan premi risiko geopolitik yang kembali menonjol di pasar energi.
Dalam pernyataan di media sosial, Trump menyampaikan ancaman serangan terhadap fasilitas listrik dan infrastruktur sipil Iran jika Hormuz tidak dibuka. Iran menolak tuntutan terbaru tersebut, dan perlintasan di selat itu dilaporkan hanya dibuka untuk sejumlah kecil kapal.
Kontrol atas Hormuz tetap menjadi titik kunci konflik karena selat ini menghubungkan Teluk Persia ke pasar global, terutama Asia. Dalam beberapa hari terakhir, beberapa kapal disebut masih diizinkan melintas, termasuk kapal kontainer Prancis, kapal tanker milik perusahaan Jepang, serta kapal dari Malaysia dan Pakistan.
Iran juga menyatakan pada Sabtu bahwa Irak akan dikecualikan dari pembatasan di selat, yang berpotensi membantu arus kargo minyak. Namun, seorang pejabat Irak menyebut realisasi pengapalan tetap bergantung pada kesiapan perusahaan pelayaran untuk mengambil risiko masuk ke jalur tersebut.
Di sisi diplomasi, Kementerian Luar Negeri Oman menyatakan telah membahas opsi dengan Iran untuk memastikan kelancaran arus di selat, dengan proposal dari kedua pihak masih dipelajari. Sementara itu, rangkaian serangan berlanjut selama akhir pekan, termasuk klaim Israel telah menyerang puluhan target di Iran serta laporan serangan yang mengenai kantor pusat Kuwait Petroleum Corp, di tengah operasi AS mengevakuasi seorang awak jet tempur yang dilaporkan hilang setelah pesawatnya ditembak jatuh di Iran.(asd)
Sumber: Newsmaker.id