Minyak Melonjak usai Pidato Trump, Kekhawatiran Eskalasi Iran Meningkat
Harga minyak naik tajam pada Kamis (2/4) setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan potensi peningkatan agresi militer terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Pernyataan tersebut meredupkan harapan pasar akan de-eskalasi dalam waktu dekat, sehingga premi risiko pasokan kembali melebar.
Kontrak berjangka WTI pengiriman Mei naik 13% ke US$113,08 per barel pada pukul 09.16 ET. Sementara itu, Brent pengiriman Juni naik 8% ke US$109,29 per barel. Dalam pidatonya, Trump mengaitkan kenaikan harga minyak dengan tuduhan bahwa rezim Iran melakukan serangan terhadap kapal tanker minyak komersial dan negara-negara tetangga yang tidak terlibat konflik.
Trump menyatakan AS akan menghantam Iran “sangat keras” dalam dua hingga tiga minggu ke depan, namun menambahkan bahwa perang tidak akan berlangsung lama dan pembicaraan dengan Teheran “masih berlangsung,” sehingga jalur diplomasi disebut tetap terbuka. Meski begitu, pasar menilai pesan ini tidak memberi kepastian waktu, terutama ketika gangguan jalur energi utama masih terjadi.
Selat Hormuz—yang sebelumnya menyalurkan sekitar seperlima aliran minyak dan gas dunia—dilaporkan praktis berhenti beroperasi sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari, mendorong harga energi melonjak dalam salah satu krisis energi paling berat. Analis risiko politik Oxford Analytica, Giles Alston, menilai lalu lintas tanker melalui Hormuz kecil kemungkinan pulih dalam waktu dekat.
Penyebab
Pidato Trump meningkatkan persepsi risiko eskalasi militer dalam 2–3 minggu, mengurangi ekspektasi de-eskalasi cepat.
Gangguan Selat Hormuz membuat pasar menilai pasokan energi global tetap ketat.
Narasi ancaman terhadap pengiriman tanker dan infrastruktur memperkuat premi risiko geopolitik pada harga minyak.
Akibat
Harga minyak melonjak (WTI +13% ke US$113,08; Brent +8% ke US$109,29) karena pasar memasukkan risiko pasokan berkepanjangan.
Risiko inflasi energi meningkat, yang dapat menekan aset berisiko dan memperketat ekspektasi kebijakan suku bunga.
Volatilitas pasar energi cenderung bertahan tinggi selama status Hormuz dan arah operasi militer belum jelas.(yds)
Sumber: Newsmaker.id