• Thu, Apr 2, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

2 April 2026 19:23  |

Minyak Melonjak, Hormuz Tetap Jadi Pemicu Utama

Harga minyak melonjak setelah Presiden AS Donald Trump berjanji meningkatkan tekanan militer terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan, memudarkan harapan de-eskalasi cepat. West Texas Intermediate (WTI) sempat menembus US$110 per barel dan Brent mendekati level serupa, mencerminkan premi risiko pasokan yang kembali melebar ketika Selat Hormuz masih efektif tertutup dan arus energi tetap sangat terbatas.

Kenaikan tidak hanya terjadi pada minyak mentah. Pasar produk olahan memanas lebih tajam, ditandai lonjakan diesel berjangka Eropa hingga melampaui US$200 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022. Pergerakan ini menggarisbawahi risiko inflasi global, terutama ketika pembeli berebut kargo yang tersedia dan sebagian pengiriman harus menempuh rute lebih jauh untuk mengamankan pasokan.

Trump menyebut perang sebagai “keberhasilan” dan mengatakan Hormuz akan terbuka “secara alami” setelah konflik berakhir, tanpa menjelaskan mekanisme maupun jadwal yang jelas. Presiden Prancis Emmanuel Macron menilai tidak realistis membuka selat tersebut dengan cara militer, menambah kontras pandangan di antara sekutu dan memperkuat ketidakpastian rute normalisasi pasokan.

Di pasar fisik dan struktur harga, sinyal keketatan terlihat semakin ekstrem. Kontrak WTI terdekat diperdagangkan lebih dari US$11 per barel di atas kontrak bulan berikutnya, premi yang mencerminkan kelangkaan pasokan jangka pendek. Walau futures sempat ditutup mendekati US$101 pada Rabu, patokan Dated Brent untuk harga barel fisik dilaporkan berada di sekitar US$128, menegaskan kondisi pasar yang ketat di luar layar bursa.

Tekanan diperkirakan belum mereda selama aliran melalui Hormuz belum pulih. Brent disebut sekitar 50% lebih tinggi dibanding sebelum perang, sementara analis menilai pidato Trump tidak mengubah realitas dasar pasar: selat masih tertutup dan gangguan pasokan berpotensi berlanjut setidaknya beberapa minggu.

Risiko volatilitas juga meningkat karena pasar menghadapi libur panjang Paskah, ketika kontrak minyak tidak diperdagangkan pada Jumat. Dengan jendela risiko yang lebih panjang tanpa price discovery, pelaku pasar cenderung menaikkan premi ketidakpastian, terutama pada aset energi.

Kebuntuan Hormuz tetap menjadi titik terpanas. Trump sebelumnya mengancam serangan terhadap infrastruktur Iran jika selat tidak dibuka, lalu menyerukan negara lain mengambil alih pengamanan jalur tersebut; Uni Emirat Arab termasuk yang mendorong mandat PBB untuk penggunaan kekuatan. Iran menegaskan masa depan selat ditentukan Iran dan Oman serta menolak membukanya berdasarkan “pertunjukan absurd” presiden AS, sementara pejabat Iran menyatakan kesiapan menghadapi berbagai skenario dan menyebut tuntutan AS “maksimalis dan tidak logis.”

Pada update harga terakhir yang disebutkan, Brent pengiriman Juni naik ke US$109,22 per barel pada pukul 08.13 waktu New York, sementara WTI pengiriman Mei melonjak sekitar 10% ke US$110,26.(gn)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

API Laporkan Lonjakan Stok AS, Minyak Melunak!

Harga minyak melemah tipis pada Rabu pagi setelah data American Petroleum Institute (API) menunjukkan kenaikan persediaan min...

18 March 2026 08:44
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
OIL

Brent Turun Tipis, Risiko Hormuz Mengintai

Harga minyak terkoreksi tipis dalam perdagangan Asia yang sepi, saat pelaku pasar menunggu hasil pembicaraan AS–Iran di Jen...

17 February 2026 12:45
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai