Minyak Melonjak usai Trump Isyaratkan Eskalasi Serangan ke Iran
Harga minyak menguat tajam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington akan menghantam Iran “sangat keras” dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Pernyataan itu kembali memicu kekhawatiran pasar soal kelanjutan pasokan energi, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur penting pengiriman minyak global.
Brent melonjak menembus US$105 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik mendekati US$104 setelah Trump menyampaikan pidato prime-time yang jarang dilakukan. Dalam pernyataannya, Trump juga mengatakan negara-negara yang bergantung pada minyak lewat Hormuz seharusnya mengambil peran utama dalam melindungi pengiriman, dan mengklaim jalur itu akan terbuka “secara alami” setelah perang berakhir.
Konflik tersebut secara efektif membuat Selat Hormuz tertutup, menahan pasokan minyak mentah, gas, serta produk energi seperti solar ke pasar global. Situasi ini mendorong kenaikan harga energi dan memperbesar kekhawatiran krisis inflasi di sejumlah negara.
Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak sempat turun karena optimisme konflik bisa mereda. Namun, Brent masih lebih dari 40% lebih tinggi dibandingkan level sebelum perang, sehingga pasar menilai guncangan pasokan belum selesai. Sejumlah analis menilai pidato Trump membuat pasar kembali memasukkan skenario kampanye militer yang lebih intens, sementara kepastian kapan konflik berakhir belum terlihat jelas.
Ketegangan soal Hormuz tetap menjadi isu paling krusial bagi pasar energi. Trump sebelumnya mengancam akan menghancurkan infrastruktur Iran jika jalur itu dibuka kembali, lalu meminta negara lain mengambil langkah untuk merebut kendali jalur tersebut. Uni Emirat Arab termasuk negara Teluk yang mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa memberi mandat penggunaan kekuatan untuk membuka kembali jalur itu.
Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan masa depan Selat Hormuz akan ditentukan Iran dan Oman. Iran juga menegaskan jalur itu tidak akan dibuka hanya karena “aksi” Presiden AS, menandakan posisi Teheran masih keras dan berpotensi memperluas wilayah pasokan.
Pasar juga menilai normalisasi arus pengiriman tidak akan cepat, bahkan jika perang berakhir dalam beberapa pekan. Kerusakan pada infrastruktur energi diperkirakan memerlukan waktu perbaikan, sementara akumulasi pasukan AS di kawasan menjaga eskalasi risiko tetap tinggi. Di tengah volatilitas, investor meningkatkan transaksi opsi untuk mengantisipasi berbagai skenario harga, sementara Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan beberapa negara dapat menghadapi penjatahan energi ketika guncangan pasokan semakin dalam bulan ini.(asd)
Sumber: Newsmaker.id