Minyak Turun di Tengah Optimisme Penyelesaian Perang Iran
Harga minyak jatuh setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS mungkin akan keluar dari Iran dalam beberapa minggu ke depan, meningkatkan harapan bahwa konflik tersebut akan segera berakhir.
Minyak Brent sempat turun di bawah $100 per barel, dengan penurunan lebih dari 5%, sebelum pulih sebagian. Trump mengungkapkan bahwa AS dapat keluar dalam dua hingga tiga minggu dan bahwa kesepakatan dengan Iran mungkin tercapai, meskipun tidak diperlukan untuk mengakhiri konflik tersebut.
Meskipun demikian, harga minyak masih sekitar 40% lebih tinggi dibandingkan sebelum Maret, karena perang terus menekan aliran minyak melalui Selat Hormuz, yang menyuplai sekitar sepertiga dari pasokan minyak dunia. Badan Energi Internasional (IEA) menyebutnya sebagai gangguan pasokan terbesar yang pernah ada, dengan harga bahan bakar sempat menembus $200 per barel.
Meskipun Trump mengisyaratkan penurunan ketegangan, ketidakpastian tetap ada terkait apakah aliran minyak melalui Hormuz bisa segera pulih, atau berapa lama waktu yang diperlukan untuk meningkatkan produksi energi dari wilayah tersebut.
Penyebab
Penurunan harga minyak dipengaruhi oleh sinyal optimisme dari Presiden Trump yang mengindikasikan penyelesaian perang yang akan segera terjadi, serta ketidakpastian terkait pengaruhnya terhadap aliran pasokan energi melalui Selat Hormuz. Optimisme ini diimbangi oleh kekhawatiran akan inflasi global yang disebabkan oleh lonjakan harga energi.
Akibat
Perubahan harga minyak dapat memperburuk tekanan inflasi di seluruh dunia, dengan dampak yang signifikan bagi konsumen AS yang mengalami kenaikan harga bensin yang mencapainya lebih dari $4 per galon. Selain itu, ketidakpastian yang ada di pasar energi global berpotensi memperlambat pemulihan ekonomi, meningkatkan kekhawatiran stagflasi.(yds)
Sumber: newsmaker.id