Serangan di Teluk Persia dan Ancaman Trump Dorong Harga Minyak
Harga minyak naik tajam pada Selasa (31/3), setelah serangan yang dilakukan Iran terhadap kapal tanker milik Kuwait di Teluk Persia. Serangan ini menyebabkan kebakaran dan kemungkinan tumpahan minyak di perairan sekitar Dubai. Harga West Texas Intermediate (WTI) melonjak hingga 3,7% ke $106,70 per barel, mencapai level tertinggi sejak Juli 2022. Sementara itu, harga Brent juga mengalami kenaikan, dengan futures bulan Mei tercatat lebih tinggi 0,2% di $112,78 per barel.
Kenaikan harga minyak dipicu oleh ketegangan yang semakin memuncak di kawasan Timur Tengah, di mana Iran terus menyerang kapal-kapal yang melintas di Teluk Persia. Konflik yang telah memasuki minggu kelima ini, ditambah ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menghancurkan infrastruktur energi Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali, meningkatkan ketidakpastian pasar energi global.
Sementara itu, ketegangan semakin meningkat ketika kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman menyerang Israel dengan rudal. Iran juga mendorong kelompok ini untuk mempersiapkan serangan baru terhadap jalur pelayaran di Laut Merah, yang dapat mengancam pasokan minyak dari jalur alternatif selain Hormuz. Serangan ini berpotensi mengganggu pasokan minyak global dan meningkatkan ketegangan di pasar energi.
Sebagai respons terhadap ketegangan ini, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa AS akan "mengambil kembali kontrol" atas Selat Hormuz dengan pengawalan kapal AS atau koalisi multinasional untuk memastikan kelancaran pelayaran. Pasar kini berada di ujung tanduk, dengan harga minyak melanjutkan tren kenaikan di tengah ketidakpastian yang disebabkan oleh ketegangan yang semakin meningkat di kawasan tersebut. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id