• Mon, Mar 30, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

30 March 2026 11:01  |

Eskalasi Konflik Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Global

Harga minyak dunia kembali menguat seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Peningkatan ini terjadi setelah kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, meluncurkan serangan rudal ke Israel dan menyatakan akan terus melakukan operasi selama serangan terhadap Iran dan kelompok proksinya tidak berhenti. Kondisi ini menambah kekhawatiran pasar bahwa konflik yang semakin luas dapat mengganggu pasokan energi global.

Minyak mentah Brent sempat melonjak hingga 3,7% ke level US$116,75 per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI naik menembus US$100 per barel sebelum memangkas sebagian penguatannya. Kenaikan ini memperpanjang ketergantungan minyak sepanjang bulan Maret, dimana Brent telah melonjak sekitar 60% dalam satu bulan. Pasar kini menilai risiko geopolitik semakin besar, terutama karena konflik telah memasuki pekan kelima tanpa tanda-tanda mereda.

Kekhawatiran semakin meningkat setelah Amerika Serikat mengirimkan ribuan pasukan tambahan ke kawasan. Langkah ini memicu spekulasi mengenai kemungkinan operasi militer yang lebih besar. Pada saat yang sama, pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut keinginan untuk menguasai minyak Iran dan kemungkinan mengambil alih pusat ekspor Pulau Kharg turut memperkeruh suasana. Bila langkah tersebut benar-benar dilakukan, pasar menilai respons keras dari Teheran sangat mungkin terjadi.

Salah satu perhatian utama pasar saat ini adalah gangguan di Selat Hormuz, jalur penting yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global. Iran disebut telah memperketat kendali atas jalur ini dan hanya mengizinkan sebagian kapal kecil untuk melintas. Situasi tersebut membuat kekhawatiran terhadap pasokan minyak semakin besar, karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia.

Masuknya Houthi ke dalam konflik juga menciptakan risiko tambahan bagi pasar minyak. Kelompok ini sebelumnya pernah mengganggu jalur pelayaran di Laut Merah, sehingga kapal-kapal harus mencari rute alternatif. Kini pasar mulai mencermati kemungkinan ancaman terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi, termasuk jalur ekspor melalui Yanbu. Jika gangguan meluas ke wilayah tersebut, tekanan terhadap pasokan energi global bisa menjadi jauh lebih besar.

Di tengah kondisi ini, pasar mulai memperhitungkan potensi kenaikan harga minyak lebih lanjut dalam waktu dekat. Sejumlah analis menilai harga minyak masih dapat bergerak menuju US$120 per barel jika konflik terus berlanjut dan jalur distribusi utama tetap terganggu. Lonjakan harga energi juga mulai memberi dampak ke berbagai sektor lain, termasuk biaya transportasi, industri logam, dan inflasi global. Dengan demikian, perkembangan perang di Timur Tengah kini tidak hanya menjadi isu geopolitik, tetapi juga faktor utama yang menggerakkan pasar energi dunia.(asd)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

API Laporkan Lonjakan Stok AS, Minyak Melunak!

Harga minyak melemah tipis pada Rabu pagi setelah data American Petroleum Institute (API) menunjukkan kenaikan persediaan min...

18 March 2026 08:44
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
OIL

Brent Turun Tipis, Risiko Hormuz Mengintai

Harga minyak terkoreksi tipis dalam perdagangan Asia yang sepi, saat pelaku pasar menunggu hasil pembicaraan AS–Iran di Jen...

17 February 2026 12:45
BIAS23.com NM23 Ai