• Mon, Mar 30, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

30 March 2026 11:44  |

Emas Mencoba Pulih, Risiko Perang Membayangi

Harga emas bergerak stabil setelah mencatat kenaikan mingguan pertamanya sejak konflik di Timur Tengah pecah. Sejumlah pembeli memanfaatkan pelemahan harga (dip-buyers) untuk masuk, sementara pasar masih menunggu kejelasan seberapa lama perang akan berlangsung.

Bullion sempat memulihkan penurunan awal dan bertahan di sekitar US$4.500 per troy ounce. Ketahanan ini muncul meski harga minyak terus naik dan pasar saham melemah, menandakan sebagian investor menganggap penurunan emas selama sebulan terakhir sudah cukup menarik untuk akumulasi.

Namun, perang juga memunculkan sisi negatif bagi emas. Kenaikan harga minyak memperbesar kekhawatiran inflasi, sehingga harapan pemangkasan suku bunga memudar. Dalam skenario inflasi bertahan, bank sentral berisiko mempertahankan kebijakan ketat, dan emas sebagai aset tanpa imbal hasil bisa kehilangan daya tarik ketika suku bunga tinggi.

Risiko eskalasi konflik ikut memperkeruh sentimen. Masuknya kelompok Houthi yang didukung Iran menambah kekhawatiran pelebaran perang, seiring pengiriman tambahan pasukan AS ke kawasan. Di sisi lain, sejumlah negara seperti Pakistan, Mesir, Arab Saudi, dan Turki mencoba mendorong jalur damai, tetapi ketegangan tetap tinggi setelah Iran menyerang smelter aluminium di Bahrain dan Uni Emirat Arab, serta sebagian wilayah Teheran sempat mengalami pemadaman listrik usai serangan rudal Israel.

Pasar juga menimbang kemungkinan tekanan tambahan dari sisi bank sentral dan kondisi likuiditas. Kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan dapat mendorong bank sentral menjual emas dan menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi, ditambah adanya “liquidity squeeze” di pasar yang lebih luas, disebut telah menyeret harga emas sekitar 14% lebih rendah sejak perang dimulai pada akhir Februari.

Meski begitu, ekspektasi kenaikan suku bunga bisa tertahan oleh risiko perlambatan ekonomi. Sejumlah manajer investasi besar menilai pasar belum sepenuhnya memperhitungkan potensi pelemahan ekonomi, yang pada akhirnya bisa menekan imbal hasil obligasi AS (Treasury). Jika yield turun, biaya peluang memegang emas ikut turun, sehingga emas bisa kembali lebih menarik. Di sisi lain, ada sinyal kehati-hatian karena potensi penjualan bank sentral, termasuk langkah bank sentral Turki yang dilaporkan menjual dan menukar sekitar 60 ton emas pada dua pekan awal perang. Negara-negara yang banyak mengakumulasi emas juga banyak yang merupakan importir energi, sehingga lonjakan harga minyak dapat mengurangi ruang untuk membeli emas.

Ke depan, arah emas akan sangat dipengaruhi oleh tiga hal: durasi dan eskalasi konflik (terutama dampaknya ke minyak dan inflasi), perubahan ekspektasi suku bunga, serta arus dari bank sentral dan investor institusi. Selama ketidakpastian perang bertahan, emas berpeluang tetap ditopang minat lindung nilai, tetapi volatilitas kemungkinan tetap tinggi jika pasar kembali memperkuat narasi inflasi dan suku bunga lebih lama tinggi.(asd)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

GOLD

Harga Emas Melemah, Pasar Tunggu Keputusan The Fed

Harga emas dunia (XAU/USD) bergerak melemah di sekitar $3.335 per ons pada awal sesi Eropa hari Senin, setelah sempat mencoba...

28 July 2025 16:23
GOLD

Setelah Melambung, Emas Kini Terancam Tenggelam?

Harga emas batangan bergerak melemah dan diperkirakan mencatat kerugian mingguan kedua berturut-turut setelah pasar global me...

27 June 2025 12:22
GOLD

Di Tengah Pasar Sepi, Emas Melemah Tajam, Ada Apa?

Harga emas melemah sekitar 1,5% pada sesi Asia hari ini, meskipun aktivitas pasar regional cenderung terbatas karena libur Ta...

16 February 2026 12:41
GOLD

Bitcoin Jebol, Emas Kena Getahnya

Emas melemah di awal sesi Asia Kamis, ikut terseret gelombang jual yang bermula dari pasar kripto. Spot gold turun ke kisaran...

6 February 2026 07:16
BIAS23.com NM23 Ai