Premi Minyak Memudar, Tapi Risiko Hormuz Masih Pegang Kendali
Harga minyak cenderung stabil setelah anjlok tajam pada Senin, ketika Presiden AS Donald Trump melunak dari ancamannya untuk menyerang infrastruktur energi Iran. Koreksi besar sehari sebelumnya membuat pasar masuk fase “menimbang ulang” premi risiko, sambil tetap memantau apakah arus pelayaran di Selat Hormuz benar-benar pulih.
West Texas Intermediate (WTI) bergerak sedikit lebih tinggi di sekitar $89 per barel setelah sesi yang sangat liar. Trump mengklaim ada pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri konflik yang kini memasuki pekan keempat. Namun Iran membantah negosiasi sedang berlangsung, sementara Israel tetap melanjutkan serangan ke Teheran. Di sisi lain, Brent sempat mencatat penurunan sekitar 11%.
Meski turun tajam, minyak mentah AS masih naik lebih dari 30% sepanjang bulan ini karena kekhawatiran konflik yang mengguncang Timur Tengah akan memicu krisis energi global. Perang hampir menghentikan transit melalui Selat Hormuz, memaksa produsen Teluk Persia memangkas produksi jutaan barel per hari.
RBC Capital Markets menilai belum jelas sejauh mana pembicaraan “jalur belakang” benar-benar berkembang, dan apakah IRGC sedang berminat untuk menyelesaikan konflik ketika mereka masih memegang kendali kuat atas Selat Hormuz. “Kapal, bukan soundbite, yang pada akhirnya akan paling berarti bagi pasar fisik,” tulis analis RBC termasuk Helima Croft, menekankan bahwa bukti pemulihan arus kapal lebih penting dibanding pernyataan politik.
Di sisi lain, pasar minyak saat ini terlihat mulai memasang skenario pembukaan kembali Hormuz lebih cepat. CEO Vitol Americas Ben Marshall mengatakan investor kini “singularly focused” pada potensi restart. Dalam beberapa hari terakhir, ada “aliran tipis” kapal yang berhasil keluar dari Teluk Persia, walau sebagian besar lalu lintas masih tersendat. Data Bloomberg juga menunjukkan supertanker pertama yang mengangkut minyak Irak melalui selat sejak nyaris ditutup telah terpantau.
Pada akhir pekan, Trump sempat mengancam akan membombardir infrastruktur energi Iran jika Hormuz tidak dibuka penuh dalam 48 jam. Keputusan Trump untuk menghentikan serangan dipandang sebagai upaya mengelola harga minyak, menurut sumber yang memahami pembicaraan diplomatik—dan Trump mengakui kaitannya. “Harga minyak akan jatuh seperti batu begitu deal selesai,” kata Trump.
Namun perubahan pesan yang berulang dari Trump membuat investor kelelahan, menekan volume transaksi ketika trader harus menyaring arus headline yang nyaris konstan dan kadang saling bertentangan. Bahkan, empat dari enam pergerakan terbesar sepanjang sejarah kontrak Brent terjadi sejak konflik dimulai—menegaskan betapa ekstremnya volatilitas saat ini.
Will Todman dari CSIS menilai hasil negosiasi mungkin menjadi opsi terbaik dari serangkaian pilihan buruk bagi Trump. Namun Iran diyakini akan masuk ke pembicaraan dengan skeptisisme tinggi, khawatir Trump hanya sedang “mengulur waktu” hingga aset militer tambahan tiba di kawasan.
Pada perdagangan Asia, WTI kontrak Mei naik sekitar 1% ke $88,99 per barel pada 06:46 pagi di Singapura. Sementara Brent kontrak Mei ditutup 11% lebih rendah di $99,94 per barel.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id