Minyak Tetap Volatil, Ultimatum Trump ke Iran Kunci Arah Hormuz
Harga minyak bergerak volatil pada Senin ketika pasar menilai ultimatum Presiden AS Donald Trump yang mendesak Iran membuka kembali Selat Hormuz. WTI diperdagangkan di sekitar US$98 per barel setelah sempat menyentuh US$101,5 pada awal sesi, menunjukkan premium risiko masih mudah berubah mengikuti headline geopolitik.
Brent juga berfluktuasi di area tinggi. Kontrak Brent berada di sekitar US$112 per barel setelah sempat naik hingga US$115, menegaskan bahwa fokus pelaku pasar masih pada jalur pelayaran Hormuz dan potensi gangguan pasokan yang belum mereda.
Trump memperingatkan bahwa ia akan “menghancurkan” pembangkit listrik utama Iran jika jalur tersebut tidak dibuka kembali untuk pelayaran hingga Senin malam. Teheran merespons dengan menyatakan akan menargetkan aset AS dan Israel di kawasan—termasuk infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi—jika fasilitas energi Iran diserang, memperbesar risiko eskalasi lintas sektor.
Sejak perang Iran dimulai, harga minyak telah melonjak sekitar 50% karena konflik belum menunjukkan tanda mereda. Penutupan efektif Hormuz menahan arus pasokan, sementara produksi minyak Timur Tengah turun tajam, membuat pasar menempatkan gangguan pasokan sebagai skenario dasar jangka pendek.
Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan pasar minyak global menghadapi guncangan terbesar dalam sejarah, meski sudah ada pelepasan cadangan darurat dalam skala besar. Upaya AS untuk memfasilitasi penjualan minyak Rusia dan Iran juga dinilai belum cukup menetralkan risiko ketika masalah utama adalah keamanan dan akses jalur pengiriman.
Ke depan, arah harga akan sangat ditentukan oleh dua hal: apakah ada bukti konkret pembukaan kembali Hormuz dan normalisasi arus tanker, serta apakah eskalasi serangan meluas ke infrastruktur energi kawasan. Selama ketidakpastian ini bertahan, volatilitas harian diperkirakan tetap tinggi. (asd)
Sumber : Newsmaker.id