Premi Risiko Melejit, Minyak Catat Lonjakan Terbesar Sejak 2022
Harga minyak masih melanjutkan penguatannya pada Jumat (6/3) meski bergerak fluktuatif, dengan pasar masih menilai gangguan pasokan akibat perang Timur Tengah yang memasuki hari ketujuh. Brent berada di sekitar $86 per barel dan WTI berada di atas $81 per barel, masih mencatat kenaikan sekitar 17% sepanjang pekan ini. Kenaikan ini menjadi lonjakan mingguan terbesar sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Sumber tekanan utama tetap Selat Hormuz, jalur energi strategis yang menampung sekitar seperlima arus minyak global. Arus komersial melemah tajam karena risiko keamanan, biaya asuransi, dan ketidakpastian operasional, memaksa beberapa produsen mulai menyesuaikan produksi dan rantai logistik.
Gangguan juga merembet ke pasar produk olahan dan Asia. Reuters melaporkan pasokan fuel oil dari Timur Tengah ke Asia anjlok, mendorong kenaikan tajam harga bunker fuel di Singapura dan meningkatkan biaya pengapalan ketika pembeli mencari sumber alternatif dari kawasan lain.
Di sisi kebijakan, Washington menyiapkan langkah mitigasi untuk menahan tekanan pada pasar energi. Reuters melaporkan Departemen Keuangan AS menerbitkan waiver yang memungkinkan pembelian minyak Rusia yang sudah berada di kapal (khususnya membantu kilang India), sebagai upaya meredakan ketatnya pasokan di Asia.
Arab Saudi juga berupaya menjaga kelancaran pasokan dengan mengalihkan sebagian ekspor untuk menghindari Hormuz, termasuk memerintahkan sebagian pembeli memuat kargo dari pelabuhan Laut Merah. Namun, kapasitas jalur bypass terbatas dan tarif tanker meningkat, sehingga premi risiko pasokan tetap tinggi. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id