Minyak Bertahan Naik, Hormuz Bikin Pasar Waspada
Harga minyak masih bertahan menguat setelah reli dua hari, karena pasar kembali menempelkan premi risiko di Timur Tengah—terutama yang terkait Iran. Di perdagangan Asia, WTI bertahan di atas $64 per barel sementara Brent berada di sekitar $69, setelah penguatan beruntun di dua sesi sebelumnya.
Pemicu utamanya datang dari Selat Hormuz. Pemerintah AS mengeluarkan panduan agar kapal berbendera AS menjaga jarak sejauh mungkin dari perairan Iran saat melintas, meski di saat yang sama ada sinyal kemajuan dalam pembicaraan nuklir Washington–Teheran.
Selat Hormuz adalah “urat nadi” pengiriman energi dari Timur Tengah—jalur yang menghubungkan para produsen ke pasar global, terutama Asia. Iran memang beberapa kali mengancam menutup jalur itu saat tensi memanas, dan walau belum pernah benar-benar terjadi, pasar biasanya langsung bereaksi begitu ancaman itu terdengar lagi.
Sepekan ini, trader juga akan memantau sederet laporan yang memberi petunjuk soal keseimbangan pasokan–permintaan global, dimulai dari pembaruan proyeksi lembaga resmi AS dan rangkaian laporan energi lainnya. Di sisi lain, kehadiran militer AS yang besar di kawasan membuat pasar tetap memasukkan skenario gangguan arus minyak—meski jalur diplomasi masih dibuka.
Tambahan “bumbu” datang dari langkah AS di luar Timur Tengah: pasukan AS dilaporkan menaiki (boarding) tanker terkait Venezuela di Samudra Hindia sebagai bagian dari pengetatan terhadap pengiriman minyak yang kena sanksi. Buat pasar, ini mempertegas bahwa risiko pasokan bukan cuma soal satu titik, tapi jaringan operasi yang makin luas.(asd)
Sumber: Newsmaker.id