Sinyal Tenang dari Oman, Harga Minyak Ikut Turun
Harga minyak melemah lagi pada Senin (9/2), karena pasar mulai “ngebuang” premi risiko Timur Tengah setelah AS dan Iran sepakat melanjutkan pembicaraan tidak langsung soal program nuklir Teheran. Di sesi Eropa, tekanan ini terlihat jelas di kedua acuan utama.
Pada 09:27 GMT, Brent turun 24 sen (-0,3%) ke $67,62 per barel, sementara WTI turun 34 sen (-0,3%) ke $63,12. Angka ini menegaskan bahwa sentimen hari ini lebih condong ke “tensi mereda” ketimbang “pasokan bakal terganggu”.
Kunci ceritanya ada di Oman: hasil pembicaraan Jumat disebut “positif” oleh kedua pihak, sehingga kekhawatiran pasar bahwa negosiasi gagal dan memicu konflik terbuka jadi sedikit menurun. Meski AS masih menambah kekuatan militer di kawasan, investor membaca jalur diplomasi masih hidup—dan itu cukup untuk menekan harga jangka pendek.
Tapi pasar tetap sadar, risikonya belum hilang. Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia lewat Selat Hormuz—kalau jalur ini terganggu, dampaknya bisa langsung terasa ke harga. Apalagi Menlu Iran juga sempat memperingatkan akan menyerang pangkalan AS di Timur Tengah jika Iran diserang, jadi bara konflik masih ada walau sementara ditutup “kabar negosiasi lanjut”.
Di luar geopolitik, faktor Rusia ikut bikin trader deg-degan. Eropa sedang mendorong langkah untuk membatasi pendapatan minyak Rusia, dan ada sinyal kilang-kilang India mulai menghindari pembelian kargo Rusia untuk pengiriman April—yang kalau berlanjut bisa mengubah arah arus pasokan global. Minggu lalu, Brent dan WTI juga sudah turun lebih dari 2% (koreksi pertama dalam tujuh minggu), jadi sentimen “turun dulu” masih terasa kuat di awal pekan ini. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id