Minyak Turun, “Premium Perang” Mulai Luntur
Harga minyak melemah karena tensi Timur Tengah mereda, bikin pasar menilai risiko gangguan pasokan dalam waktu dekat turun. Brent bergerak di area $67 per barel dan WTI di sekitar $63, melanjutkan tekanan setelah pekan lalu Brent sudah terkoreksi hampir 4%.
Pemicu utamanya datang dari jalur diplomasi: AS dan Iran menggelar pembicaraan di Oman pada Jumat, dan Iran menyebutnya sebagai “langkah maju”. Donald Trump juga memberi sinyal bakal ada pertemuan lanjutan pekan ini—di tengah penumpukan kekuatan militer AS di kawasan dan agenda pertemuan dengan PM Israel Benjamin Netanyahu.
Meski begitu, arah minyak tahun ini masih penuh tarik-menarik. Sejak awal 2026 harga sempat terdorong naik walau pasar ramai khawatir pasokan berlebih, ditopang faktor geopolitik dan gangguan aliran dari beberapa titik. Tapi begitu ada tanda progres AS–Iran, trader cepat-cepat mengurangi taruhan konflik jangka pendek—dan itu langsung kebaca di harga.
Fokus lain ada di India. Trump mengklaim India sepakat menghentikan impor minyak Rusia sebagai bagian dari deal dagang, tapi New Delhi belum mengonfirmasi dan tetap menekankan “energy security”. Kalau benar India mengerem pembelian, pasar bakal lihat apakah diskon minyak Rusia melebar untuk cari pembeli baru—kalau tidak, pasokan global bisa terasa lebih ketat.
Minggu ini pasar juga bakal dibombardir update proyeksi dari OPEC, IEA, dan lembaga resmi AS soal keseimbangan minyak global—ini bisa jadi penentu apakah koreksi lanjut atau mulai stabil. Di luar itu, Kuba ikut jadi sorotan setelah tekanan AS membuat pengiriman bahan bakar tersendat, sampai pemerintah setempat memperingatkan maskapai soal keterbatasan pengisian bahan bakar di bandara utama Havana.(asd)
Sumber: Newsmaker.id