Minyak Melemah Menanti Hasil Pembicaraan AS–Iran di Oman
Harga minyak turun pada Jumat (6/2) ketika investor mencerna perkembangan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran di Oman—di tengah kekhawatiran bahwa ketegangan baru di Timur Tengah bisa kembali mengganggu pasokan.
Pada pukul 14:10 GMT, Brent turun 55 sen (-0,8%) ke $67,00 per barel, sementara WTI melemah 60 sen (-1%) ke $62,69 per barel. Secara mingguan, Brent tercatat turun 5,2%, sedangkan WTI turun 3,7%.
Pembicaraan AS–Iran berlangsung melalui mediasi Oman untuk mencoba menjembatani perbedaan besar terkait program nuklir Tehran. TV pemerintah Iran melaporkan pada sore hari bahwa pertemuan telah berakhir. Menteri Luar Negeri Iran menyebut para negosiator akan kembali ke ibu kota masing-masing untuk konsultasi, dan pembicaraan akan dilanjutkan.
Menjelang pertemuan, pasar sudah gelisah karena belum ada kesepakatan agenda. Iran ingin fokus pada isu nuklir, sedangkan AS disebut ingin memperluas pembahasan ke rudal balistik Iran dan dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan. Ketidakselarasan ini membuat risiko geopolitik tetap “menggantung” di atas pasar minyak.
Risikonya besar karena sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz—jalur strategis antara Oman dan Iran. Negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyaknya melalui selat tersebut, begitu juga Iran sebagai anggota OPEC. Jika ketegangan meningkat, arus minyak bisa terganggu; sebaliknya, bila peluang konflik mereda, harga minyak berpotensi turun lebih jauh.
Di sisi pasokan, pasar juga memantau Kazakhstan. Sejumlah sumber perdagangan menyebut ekspor minyak Kazakhstan bisa turun hingga 35% bulan ini melalui rute utama yang melewati Rusia, seiring pemulihan bertahap ladang raksasa Tengiz setelah kebakaran fasilitas listrik pada Januari.
Namun, beban utama harga secara mingguan datang dari sentimen yang lebih luas: aksi jual di pasar global dan ekspektasi pasokan minyak yang berlebih (oversupply). Arab Saudi juga memangkas harga jual resmi (OSP) minyak Arab Light untuk Asia pengiriman Maret ke sekitar level terendah lima tahun, dan itu menjadi pemotongan bulan keempat berturut-turut—menguatkan sinyal persaingan merebut permintaan.
Sejumlah analis menilai backdrop fundamental saat ini belum mendukung reli, karena pasar masih membaca kondisi pasokan yang cenderung longgar.(yds)
Sumber: Investing.com