Negosiasi AS–Iran Dipastikan, Minyak Terkoreksi Tajam
Harga minyak kembali merosot pada hari Kamis (5/2) setelah Iran memastikan akan membuka jalur negosiasi dengan Amerika Serikat. Kepastian dialog ini menurunkan kekhawatiran pasar atas risiko serangan militer langsung terhadap Iran, salah satu produsen utama di OPEC, sehingga sebagian premi risiko mulai dilepas.
Minyak Brent melemah sekitar 2% dan bergerak ke kisaran $67 per barel, setelah reli hampir 5% dalam dua sesi sebelumnya. Sementara itu, WTI turun lebih dalam sekitar 2,5% ke area $63 per barel. Konfirmasi jadwal perundingan di Oman pada Jumat disampaikan oleh Abbas Araghchi, yang membantu meredakan ketegangan geopolitik jangka pendek.
Tekanan tambahan datang dari data tenaga kerja AS yang lemah, khususnya laporan pekerjaan sektor swasta, yang kembali memunculkan kekhawatiran perlambatan ekonomi. Sentimen ini menekan prospek permintaan energi global, membuat pasar lebih berhati-hati setelah reli cepat dalam beberapa hari terakhir.
Meski demikian, pelaku pasar menilai risiko belum sepenuhnya hilang. Perbedaan sikap antara Washington dan Teheran terkait cakupan negosiasi masih lebar, sementara kawasan Timur Tengah tetap menjadi sumber sekitar sepertiga pasokan minyak dunia. Kondisi ini membuat harga minyak masih memuat premi risiko, meski tidak setinggi saat eskalasi memanas.
Di sisi lain, perhatian juga tertuju pada perkembangan konflik Ukraina. Presiden Volodymyr Zelenskiy menegaskan bahwa serangan Rusia terhadap infrastruktur energi dapat memengaruhi pembicaraan damai, dan kembali meminta dukungan militer tambahan dari Donald Trump. Faktor ini menjaga pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Tekanan di pasar energi turut diperparah oleh aksi jual besar di logam mulia, di mana perak anjlok lebih dari 17% dan emas sempat turun hingga 3,5%. Kombinasi meredanya risiko geopolitik, kekhawatiran pertumbuhan, dan koreksi lintas aset membuat harga minyak masuk fase konsolidasi setelah reli tajam sebelumnya. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id