Minyak Terkoreksi Setelah Iran Pastikan Negosiasi dengan AS Digelar Jumat
Harga minyak turun untuk pertama kalinya dalam tiga hari setelah Iran mengonfirmasi akan menggelar negosiasi dengan Amerika Serikat pada Jumat di Oman. Kepastian ini sedikit meredakan risiko serangan militer terhadap Iran—salah satu produsen utama OPEC—yang belakangan ikut mengangkat premi risiko di pasar minyak.
Kontrak WTI melemah menuju $64 per barel, setelah mencatat kenaikan gabungan sekitar 4,8% dalam dua sesi sebelumnya. Sementara itu, Brent ditutup mendekati $69 pada perdagangan Rabu.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan melalui unggahan di media sosial bahwa pertemuan akan berlangsung di Oman, sekaligus memperjelas lokasi pembicaraan yang sempat simpang-siur. Namun, perbedaan posisi mengenai parameter negosiasi membuat peluang kesepakatan cepat masih belum jelas, terutama di tengah ketegangan kawasan yang memasok sekitar sepertiga minyak mentah dunia.
Kondisi tersebut menjaga risk premium tetap “menempel” pada harga minyak. Tahun ini, minyak mulai rebound setelah tertekan pada paruh kedua 2025, ketika pasar dibayangi indikasi surplus pasokan global yang makin besar.
Fokus Pasar: Ukraina, Rusia, dan Energi
Pelaku pasar juga memantau perkembangan pembicaraan damai Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan prosesnya dapat terdampak oleh serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina. Ia juga meminta Presiden AS Donald Trump untuk memberikan tambahan persenjataan guna menekan Moskow mengakhiri perang.
Stok AS Turun, Tapi Tak Sedalam Harapan
Dari sisi fundamental, data EIA menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun ke level terendah dalam satu bulan, meski penurunannya lebih kecil dibanding ekspektasi awal pasar yang memperkirakan penurunan lebih besar.
Harga Terkini :
WTI (pengiriman Maret): turun 1,1% ke $64,40/barel (pukul 07:51 pagi, Singapura)
Brent (penyelesaian April): ditutup naik 3,2% ke $69,46/barel pada Rabu.(asd)
Sumber: Newsmaker.id