Tensi Timur Tengah Dorong Minyak, Tapi OPEC+ Jadi Rem
Risiko geopolitik yang kembali memanas di sekitar Iran berpotensi mendorong Brent kembali naik di atas $70 per barel, menurut catatan Heng Koon How (UOB). Intinya, pasar mulai “memasang” geopolitical risk premium lagi—perlahan masuk ke harga minyak sejak ketegangan meningkat, mengangkat Brent dari area terendah sekitar $60/barel pada Desember dan menariknya kembali ke kisaran yang lebih tinggi.
Namun UOB menilai, meski headline Timur Tengah bisa bikin harga mudah “spike”, pasokan tambahan dari OPEC+ akan jadi faktor penahan dalam jangka lebih panjang. Artinya: selama supply tambahan benar-benar masuk dan permintaan global tidak melonjak ekstrem, reli yang murni didorong geopolitik cenderung lebih rapuh dan rawan koreksi ketika tensi mereda.
Dari sisi proyeksi, UOB menaikkan outlook Brent menjadi $75/barel pada kuartal I 2026, $70/barel pada kuartal II, dan $65/barel pada paruh kedua tahun ini. Proyeksi ini menunjukkan UOB melihat puncak tekanan lebih dekat di awal tahun (saat tensi geopolitik dan risk premium tinggi), lalu berangsur mereda ketika faktor pasokan makin terasa.
Untuk harga terbaru, minyak masih berada di level yang “cukup tinggi” tetapi belum breakout: Brent tercatat sekitar $67,48/barel dan WTI sekitar $63,49/barel pada perdagangan Rabu (4/2), seiring pasar masih memantau perkembangan AS–Iran dan potensi gangguan di jalur strategis seperti Selat Hormuz. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id