Minyak Melemah, Tapi Pasar Ngak Berani Jual
Harga minyak turun tipis pada hari Jumat setelah reli tiga hari, karena sentimen risk-off menyebar di pasar global. Brent kembali turun ke bawah/sekitar US$70 per barel, sementara WTI melemah ke area US$64-an.
Tekanan datang dari dua arah: bursa Asia melemah dan dolar AS menguat, sehingga komoditas berdenominasi dolar jadi terasa lebih mahal bagi pembeli luar AS. Meski begitu, Brent masih menuju kenaikan bulanan terbesar sejak 2022, karena pasar memasang “premi risiko” terkait Iran; Citi merencanakan premi risiko Brent sekitar US$7–US$10 per barel.
Fokus utama pasar ada di potensi gangguan pasokan: kalau tensi meningkat, yang bertanya bukan hanya aliran ekspor Iran, tapi juga jalur pengiriman lewat Selat Hormuz—rute penting bagi tanker minyak dan LNG. Kekhawatiran makin naik setelah ada laporan Iran memperingatkan akan adanya soal rencana latihan militer dengan siaran langsung di Selat Hormuz pada Minggu–Senin.
Akhir pekan ini pasar juga menunggu pertemuan OPEC+ (online) untuk kebijakan pasokan Maret, yang secara umum diperkirakan masih menahan perubahan besar. Jadi, meskipun harga lagi “ngetem”, trader tetap waspada: headline Iran + sinyal OPEC+ bisa bikin minyak balik pembohong kapan aja.(Asd)
Sumber: Newsmaker.id