Tensi Geopolitik Dorong Minyak, Fokus Tertuju Selat Hormuz
Harga minyak kembali memanas pada hari Kamis (29/1) setelah Presiden AS Donald Trump melempar ultimatum ke Iran: buat kesepakatan nuklir atau bersiap menghadapi serangan militer. Pasar langsung pasang “premi risiko” karena skenario konflik di Timur Tengah bisa mengganggu suplai—mulai dari ekspor Iran sampai jalur pelayaran utama dunia.
Di update terbaru, Brent bergerak di sekitar US$69,34/barel, sementara WTI berada di kisaran US$65,55/barel. Ini terjadi setelah reli beberapa hari terakhir yang sempat mengangkat Brent menembus US$70 untuk pertama kalinya sejak pertengahan tahun lalu.
Yang bikin pasar makin tegang: muncul laporan soal rencana latihan dengan tembakan langsung di sekitar Selat Hormuz—jalur sempit yang dilewati kira-kira seperlima arus minyak global. Kalau jalur ini terganggu, efeknya bisa cepat menyebar ke harga energi dunia, bukan cuma kawasan.
Menariknya, reli minyak ini terjadi saat pasar juga masih dihantui isu kelebihan pasokan di 2026. Tapi sentimen geopolitik (Iran, Venezuela) plus gangguan produksi (misalnya dari Kazakhstan) bikin narasi “surplus” jadi ketahan dulu—setidaknya sampai arah konflik lebih jelas.
Di pasar derivatif, sinyalnya juga tegas: opsi bullish (call) jadi jauh lebih mahal dibanding opsi bearish (put) untuk periode terpanjang dalam lebih dari setahun. Artinya, pelaku pasar makin banyak bayar “asuransi” buat antisipasi lonjakan jika situasi Iran makin liar.
Meski begitu, pergerakan minyak tetap sensitif ke dolar dan risk sentiment. Begitu dolar sempat menguat atau bursa melemah, minyak juga bisa gampang “kepeleset” dari puncak—jadi volatilitas kemungkinan masih tinggi dalam waktu dekat. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id