Badai AS & Risiko Iran: Kombinasi Pemicu Minyak Naik Tajam
Harga minyak kembali menguat pada hari Selasa (27/1), terdorong kombinasi premi risiko geopolitik dan pelemahan dolar AS yang bikin komoditas terasa “lebih murah” bagi pembeli global. Sentimen pasar ikut dipanaskan setelah Presiden AS Donald Trump kembali menonjolkan peningkatan kehadiran militer AS di sekitar Iran—mendorong trader memasang skenario risiko yang lebih tinggi.
Dari sisi domestik AS, badai musim dingin sempat mengganggu sebagian operasi energi, termasuk aktivitas kilang di Gulf Coast. Dampaknya diperkirakan lebih ke arah gangguan logistik dan pengolahan dalam jangka pendek, bukan perubahan permintaan permanen—tapi tetap cukup untuk menjaga harga tidak mudah turun.
Meski begitu, pasar juga melihat “rem” dari sisi suplai. Kazakhstan mulai menormalkan ekspor setelah fasilitas utama kembali berjalan, dan produsen besar bersiap menaikkan produksi lagi. Artinya, kekhawatiran pasokan yang sempat mengetat bisa mulai mereda—membatasi ruang lonjakan minyak kalau tidak ada eskalasi baru.
Di sisi lain, isu Venezuela juga jadi perhatian karena ada upaya untuk menambah aliran crude ke pasar. Kalau suplai tambahan benar-benar masuk, ini bisa menambah nuansa “pasokan tetap longgar” yang selama ini jadi konsensus besar 2026.
Fokus berikutnya: OPEC+. Pasar menunggu sinyal apakah grup tetap menahan kenaikan produksi bulan depan. Sejauh ini, ekspektasi mengarah ke produksi yang tetap stabil, yang membuat harga lebih sensitif terhadap headline geopolitik ketimbang perubahan kebijakan suplai besar.
Harga terbaru (kontrak Maret):
WTI: sekitar $62,20/barel
Brent: sekitar $65,21/barel (Arl)
Sumber : Newsmaker.id