Emas Bersinar di Tengah Ketegangan Energi
Spot gold menguat pada Senin (25/5), dengan harga mencapai $4,562 per ounce di sesi pagi Eropa, dipicu optimisme investor terkait potensi kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran. Kenaikan ini terjadi seiring harga minyak Brent merosot ke $95,23 per barel, membuka ruang bagi penguatan aset safe-haven seperti emas. Namun, kenaikan emas tetap terbatas karena kekhawatiran suku bunga tinggi yang akan bertahan lebih lama akibat tekanan inflasi dari lonjakan energi.
Kesepakatan awal antara Washington dan Teheran, yang dikabarkan telah mencapai kerangka memorandum, belum mencakup detail pengelolaan Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar 20% pasokan minyak global. Iran menyatakan bahwa mereka tidak akan memungut tol bagi kapal yang melintasi selat, meski biaya layanan mungkin dikenakan, yang berpotensi meredakan ancaman keuangan terhadap jalur tersebut.
Presiden AS Donald Trump menegaskan melalui media sosial bahwa blokade AS di pelabuhan Iran akan tetap berlaku hingga kesepakatan resmi disahkan. Pernyataan ini menjaga ketidakpastian di pasar, namun berita tentang kemungkinan pembukaan kembali selat membuat harga minyak turun tajam dan memberikan dorongan sementara bagi emas.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh ekspektasi kenaikan suku bunga di berbagai bank sentral untuk menahan inflasi energi. Investor tetap waspada terhadap risiko bahwa lonjakan harga minyak dapat mempercepat kenaikan suku bunga, yang biasanya menekan permintaan terhadap emas sebagai aset non-yielding.
Dolar AS, meski sedikit melemah pada Senin, tetap dipandang sebagai safe-haven relatif di tengah ketidakpastian geopolitik dan harga energi. Penguatan greenback bisa membuat emas lebih mahal bagi pembeli internasional, sehingga membatasi ruang kenaikan lebih lanjut, meski prospek perdamaian Iran memberi dorongan positif jangka pendek. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id