Emas Turun di Tengah Gejolak Hormuz, Pasar Fokus Risiko Inflasi!
Harga emas melemah setelah eskalasi akhir pekan di perairan Timur Tengah, memicu kembali kekhawatiran guncangan pasokan energi dan risikonya terhadap inflasi. Bullion sempat turun hingga 1,9% sebelum memangkas pelemahan dan bergerak di kisaran $4.790 per ounce.
Sentimen terseret oleh perkembangan di Selat Hormuz setelah Presiden Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS menembaki dan menyita kapal kargo berbendera Iran, sementara Teheran memperingatkan kapal yang mendekat akan dianggap melanggar gencatan senjata. Sejumlah kapal dilaporkan membatalkan penyeberangan meski Iran sebelumnya menyatakan jalur tersebut kembali terbuka.
Lonjakan harga minyak dan gas alam menjadi kanal transmisi utama ke pasar emas. Kenaikan energi berpotensi merembes ke ukuran inflasi inti yang dipantau Federal Reserve, menekan peluang pemangkasan suku bunga; ekspektasi biaya pinjaman yang lebih tinggi biasanya mengurangi daya tarik emas karena tidak memberikan imbal hasil bunga.
Di sisi geopolitik, insiden terbaru juga dinilai mengganggu prospek pembicaraan damai menjelang berakhirnya gencatan senjata 14 hari pada Selasa. Analis OCBC, Christopher Wong, menilai tekanan jual mencerminkan pelemahan risk sentiment, namun pasar masih melihat kedua pihak berupaya memperkuat posisi tawar menjelang pertemuan berikutnya, sehingga arah pergerakan jangka pendek tetap ditentukan oleh sentimen risiko yang lebih luas.
Pasar kini menanti hearing konfirmasi Senat AS untuk Kevin Warsh pada Selasa sebagai kandidat pilihan Trump untuk memimpin The Fed. Isyarat potensi pelonggaran kebijakan bisa menopang emas, sementara penekanan pada kehati-hatian inflasi cenderung menjadi hambatan. Pada pembaruan terakhir, spot gold turun 0,8% ke $4.792,04 (10:48 London), sementara dolar menguat tipis dan perak ikut melemah. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id