Minyak Naik, Risiko Hormuz Kembali Tambah Premi Geopolitik
Harga minyak dan gas menguat setelah Angkatan Laut AS menyita kapal Iran, memperuncing ketegangan yang kembali mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz. Brent diperdagangkan mendekati $95 per barel pada Senin (20/06), memulihkan sekitar setengah penurunan tajam pada Jumat, sementara gas Eropa naik sekitar 3%.
Pergerakan ini terjadi setelah Teheran kembali menutup titik sempit tersebut pada Sabtu, menyusul klaim bahwa blokade AS terhadap kapal terkait Iran melanggar kesepakatan gencatan senjata yang berakhir Selasa. Ketidakpastian juga membayangi rencana pembicaraan damai, dengan Iran disebut masih meninjau proposal AS, sementara delegasi tingkat tinggi AS dijadwalkan ke Islamabad untuk pembicaraan pada Selasa.
Saluran utama ke harga adalah kendala fisik pasokan dan logistik, bukan sekadar sentimen. Gangguan arus, waktu pelayaran yang lebih panjang, serta kenaikan biaya freight dan asuransi membuat pasokan efektif mengetat, menjaga premi risiko tetap tertanam meski pasar masih berharap resolusi cepat.
Risikonya menjadi signifikan karena Hormuz merupakan jalur strategis: sebelum perang AS-Israel melawan Iran pada akhir Februari, sekitar seperlima aliran minyak dan LNG dunia melewati koridor ini. Pada Senin, trafik komersial dilaporkan nyaris berhenti, dengan hanya segelintir kapal yang tercatat bergerak, menegaskan besarnya hambatan distribusi.
Ke depan, pasar cenderung “membawa” premi risiko hingga mendekati tenggat gencatan senjata, namun tidak sepenuhnya mengunci skenario terburuk, sehingga harga tetap rentan berayun mengikuti headline. Fokus pemantauan jangka dekat mencakup status operasional Hormuz, intensitas gangguan arus fisik, pergerakan biaya pengapalan/asuransi, serta perkembangan negosiasi menjelang Selasa. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id