Emas Bertahan Hijau, Dolar Melemah di Tengah Sinyal Negosiasi
Harga emas (XAU/USD) bertahan positif pada sesi Asia Selasa (14/04), diperdagangkan di sekitar area US$4.775, naik lebih dari 0,65%. Meski pembicaraan damai AS–Iran pada akhir pekan gagal menghasilkan terobosan, pelaku pasar masih menilai pintu diplomasi belum tertutup dan negosiasi dapat berlanjut.
Pada saat yang sama, ketidakpastian arah suku bunga The Fed menekan dolar AS, sehingga emas melanjutkan rebound dari level bawah US$4.650 pada sesi sebelumnya. Wakil Presiden AS JD Vance menyampaikan ada kemajuan meski belum ada kesepakatan final. Ia menilai kerangka menuju perjanjian komprehensif masih mungkin dicapai jika Iran bersedia mengambil langkah lanjutan.
Optimisme ini ikut menjaga sentimen risiko, melemahkan permintaan terhadap dolar sebagai safe haven, dan memberi ruang bagi komoditas berdenominasi dolar seperti emas. Namun, guncangan energi akibat meluasnya konflik di Timur Tengah tetap memicu kekhawatiran inflasi. Data yang dirilis pada Jumat menunjukkan inflasi konsumen AS pada Maret duduki peringkat paling tinggi selama empat tahun terakhir. Hal; ini dipengaruhi oleh lonjakan harga energi terkait perang, sehingga pasar kembali menimbang kemungkinan sikap moneter yang lebih ketat.
Di sisi lain, FedWatch CME masih menunjukkan peluang sekitar 30% untuk pemangkasan suku bunga 25 bps pada Desember, yang membantu menahan dolar dan mendukung emas yang tidak memberikan imbal hasil. Kombinasi faktor tersebut mendorong XAU/USD sempat naik ke sekitar US$4.777 dalam satu jam terakhir, tetapi reli terlihat belum solid.
Lebih lanjut, ketidakstabilan di Selat Hormuz tetap menjadi sumber volatilitas, membuat sebagian pelaku pasar menahan posisi agresif baik di dolar maupun emas. Presiden Donald Trump mengatakan blokade angkatan laut AS di jalur strategis itu telah resmi dimulai dan mengancam akan menghancurkan kapal perang Iran yang mendekat. Iran merespons dengan ancaman terhadap seluruh pelabuhan di Teluk Persia dan Teluk Oman.
Situasi ini menjaga risiko geopolitik tetap tinggi dan membatasi ruang pergerakan aset utama, termasuk emas, yang masih sensitif terhadap headline dan perubahan cepat pada dolar serta ekspektasi suku bunga. (asd)
Sumber: Newsmaker.id